Rencana Aksi Mayday Mahasiswa Parepare ; Ekonomi Global dan Tenaga Kerja Asing (TKA) - Ngemper

Rencana Aksi Mayday Mahasiswa Parepare ; Ekonomi Global dan Tenaga Kerja Asing (TKA)

Share This

Buruh adalah saudara ! dimana pun berada, dengan gaji sebesar apa pun, buruh akan selalu ditindas, buruh akan selalu dihisap, itulah kenapa ia disebut anak kandung dari kapitalisme. Karena yang menjalankan roda-roda mesin Kapitalisme di pabrik-pabrik, di kawasan-kawasan industry, ialah tangan-tangan buruh. Buruh yang tidak berlatar belakang Ras, Bangsa, Negara, dan Agama, tetapi buruh yang berlatar belakang klas yang sama, klas Proletariat.

Dari panjang perjalanan politik Indonesia di kancah global, banyak sekali memperlihatkan betapa Indonesia semakin dibawa kedalam lingkaran-lingkaran setan yang menjadikan masa depan bangsa, kekayaan alam, dan rakyat sebagai taruhan. Dari peminjaman uang dan Investasi dari lembaga keuangan seperti IMF, World Bank, ADB, AIIB dll. hingga kelompok-kelompok pasar dan perjanjian yang lahir dari hubungan bilateral dan multilateral seperti WTO, CAFTA, hubungan bilateral China, Indonesia, Brunei, Malaysia, dll.

Kapitalisme memang sudah masuk dalam fase yang sudah semakin menua, titik imperium yang sudah tercapai menimbulkan cerita panjang perjalanan perang dunia ketiga (perang dingin) antara kelompok Amerika Cs, Uni Eropa, dan BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan South Africa). Pertaruhan mereka sudah banyak terlihat dari pertaruhan Rusia dan Amerika di tanah arab seperti Suriah, Palestina, dll. atau pertaruhan China dan Amerika di Rohingya yang mengorbankan banyak manusia tak berdosa, seperti takdir dalam kapitalisme ; Siapapun yang bertarung, rakyat kecil yang akan selalu mendapat imbas buruknya.

Setelah terjadi krisis yang berakibat meletusnya perang dunia ke II pada tahun 1920-an, kelompok-kelompok kapitalis dunia mulai menyusun strategi taktik dalam menambal krisis yang menyebabkan banyaknya korban dari perang dunia tersebut. Consensus Washington pun terselenggara yang kemudian melahirkan Neoliberalisme yang pada dasarnya hanya mencoba memperbaharui liberalisme besutan Adam Smith dan David Ricardo (tahun 1870-an). Tetapi yang menarik kemudian, korban-korban perang dunia ke II dijadikan tanggungjawab Negara, artinya bahwa sedari awal pun Amerika Cs melahirkan Neoliberalisme dengan premature, neoliberalisme yang tidak terlepas dari tanggungjawab Negara sebagaimana dasar teori Keynesian. Terbukti saat ini, diantara banyaknya program Neoliberalisme seperti pencabutan Subsidi BBM, Energi, Perumahan, transportasi, Pendidikan, Kesehatan dll. belumlah sepenuhnya berjalan, masih menjadikan Negara sebagai perpanjangan tangan untuk melanjalankan hal tersebut. Belum lagi soal privatisasi yang belum sepenuhnya mengikuti prinsip neoliberalisme, tetapi apapun itu semua bentuk kerusakan dalam tatanan masyarakat dunia adalah ulah dari system kapitalisme yang bercorak Eksploitatif, Akumulatif, dan Ekspansif.

Neoliberalisme kemudian dipakai juga oleh kelompok imperium lainnya, mau tidak mau mereka pun akan terlibat dalam arus ekonomi politik yang dibuat oleh Amerika tersebut, termasuk Indonesia dan Negara-negara Asia lainnya. Dengan kampanye “Globalisasi” kapitalisme dunia pun mampu mendorong Negara-negara agar terlibat dalam suksesi neoliberalisme yang sedari lahir sudah cacat itu.

Era Jokowi-JK memeprlihatkan betapa lihainya Indonesia dalam pertaruhan-pertaruhan ekonomi dunia, investasi mulai berbondong masuk, kawasan-kawasan Industri mulai dibangun, tambang-tambang mulai terbuka, infrastruktur penopang laju modal dan komoditi juga ikut dibangun dari jalan tol, bandara, rel kereta api, dan pelabuhan internasional, yang kesemuanya berakibat (sesuai dengan takdir kapitalisme) pada rakyat kecil, dari kemiskinan, pengangguran, angka kematian yang meningkat, kriminalitas yang meningkat, penggusuran rumah masyarakat kere kota, perampasan lahan petani-petani desa, dan masih banyak lagi. Tetapi apakah jika berganti presiden akan merubah semua itu ? jawabannya adalah TIDAK ! karena semua yang terjadi di Indonesia telah dibicarakan dan dipertaruhkan di atas meja-meja kelompok pasar dan kertas-kertas MoU seperti GATS-WTO, CAFTA, MEA dll. jadi siapapun presidennya, corak ekonominya pasti kapitalisme.

Sehubungan dengan rencana Aksi teman-teman mahasiswa di Parepare, yang terpenting adalah bagaimana kemudian melihat dan menyikapi masuknya TKA (tenaga kerja Asing) yang dilegitimasi oleh Perpres No. 20 Th. 2018. Masuknya TKA juga merupakan hasil dari GATS WTO yang kemudian berjalan sebagai suksesi Masyarakat Ekonomi Asean MEA dan juga dari perjanjian-perjanjian ekonomi yang disepakati berbagai Negara di dalam CAFTA (China Asian Free Trade Asociation).

Perpres No. 20 Th. 2018 merupakan kebijakan yang kemudian melahirkan pembelahan sikap ditengah gerakan Buruh dan rakyat. Ada yang beranggapan bahwa dengan masuknya TKA ke Indonesia secara tidak langsung melegalisir “Neo-kolonialisme” karena berakibat pengurangan lapangan kerja bagi rakyat Indonesia karena telah di kuasai oleh TKA. Sementara disisi lain, gerakan berplatform progresif haruslah berhati-hati dalam menyikapi isu ini, karena membawa semangat anti neo-kolonialisme yang bisa saja berakhir pada Chauvinis-Rasis atau nasionalisme yang kebablasan.[1]

Menolak Perpres boleh saja, tetapi apakah dengan menolak TKA tidak akan mengotori nilai luhur Hari Buruh Sedunia yang yang membawa prinsip “Internasionalisme” ? diawal sudah disampaikan bahwa sejatihnya buruh adalah Saudara yang tidak sedarah. Karena mereka berada didalam cengkeraman yang sama, yakni kerja upahan yang diatur oleh sistem kapitalisme.

Lalu apa saja yang perlu diperhatikan jika ingin menyikapi isu soal masuknya TKA ke Indonesia ? diantaranya ; Pertama, kita harus tahu jelas bahwasanya pendidikan di Indonesia belumlah mampu melahirkan tenaga-tenaga ahli demi mememnuhi kebutuhan industrialisasi yang tengah berkembang di Indonesia, dan terbukti tenga kerja dari luar mempunyai kualifikasi yang jauh diatas tenaga kerja Indonesia, yang kemudian seharusnya diturunkan sebagai Isu pokok dan runutan tuntutan ialah bagaimana memperbaiki system pendidikan di Indonesia.

Pada dasarnya kapitalisme memang seolah tidak peduli dengan proyeksi ekonomi di masa depan yang lebih berkualitas. Selanjutnya hal tersebut akan berakibat pada tenaga kerja di Indonesia akan diperlakukan semena-mena oleh pengusaha karena mempunyai latar belakang pendidikan yang tidak memadai.

Kedua, harus pula diperhatikan kita tengah berada diantara tahun-tahun politik yang dua tahun terakhir memunculkan sentiment anti China, dimana kita ketahui TKA yang telah masuk hamper lebih banyak dari TKA China, sebagai hasil dari CAFTA (China Asian Free Trade Asociation). Sentiment anti china tidak bisa dilepaskan dari kasus Ahok hingga rentetan aksi bela Islam dua tahun terakhir yang sebenarnya bermuara pada pergulatan politik tahun 2019 nanti. Salah satu serikat buruh yang besar di Indonesia pernah melakukan aksi dengan tuntutan menolak tenaga kerja Asing dengan berbagaimacam retoris seperti yang disebutkan diatas, dari Neo-kolonialisme sampai menolak Antek China, yang berujung pada rasisme, padahal perlu diperhatikan jelas baha terkadang hal tersebut dijadikan sebagai komoditi politik untuk menopang kekuatan politik salah satu kandidat yang akan berating pada laga ilusi demokrasi tahun 2019 nanti.

Selanjutnya jika memang menolak TKA dari China dengan alasan menolak di jajah oleh bangsa China atau menolak neo-kolonialisme, lalu mengapa tidak menolak sejak aal ? toh investasi china sudah lama masuk di bumi pertii terbukti banyak sekali pembangunan infrastruktur yang ditopang oleh modal China, yang notabenenya tengah berkongsi dengan Rusia, India, Brasil dan South Africa. Selanjutnya jika menolak investasi dari China, haruslah diikuti dengan menolak investasi dari Negara lain, yang kemudian tidak membawa sentiment ras yang bisa menggiring pada Chauvinisme-Rasis.

Ketiga, jika menolak TKA dengan alasan kurangnya lapangan pekerjaan bagi rakyat Indonesia, lalu bagaimana jika logikanya dibalik. Bagaimana dengan Tenaga Kerja Indonesia atau Buruh Migran yang tercatat mencapai 9 Juta jiwa tersebar diberbagai Negara dianataranya yang terbanyak, Arab Saudi, Hongkong, Taiwan, Malaysia, dll. apakah harus menerima penolakan juga di Malaysia ? apakah harus menerima penolakan juga di Taiwan ?

Kehati-hatian dalam menyikapi isu ini memang perlu dan apalagi jika menyikapinya di Hari yang sangat berkaitan erat dengan seluruh Buruh di Dunia, buruh yang tidak terpisahkan oleh Negara, ras, dan Agama.

Lalu apa yang harus disikapi, atau jika pertanyaannya, lalu apa yang harus dilakukan jika tidak menolak TKA, pertama sebenarnya sudah dijelaskan bahasanya merombak system pendidikan di Indonesia yang dari hulu ke hilir begitu carut marut. Selanjutnya, menolak swstanisasi dan privatisasi sebagai corak Neo Liberalisme di Indonesia, pemerintah sudah seharunya membangun Industri nasional apalagi jika melihat sumber daya alam di Indonesia yang kata orang bisa menghidupi seluruh manusia di daratan Asia. Berikutnya adalah apa solusi bagi masalah pengangguran yang semakin meningkat ditambah lagi masuknya TKA (Seperti anggapan teman-tman mahasiswa di Parepare) ? dalam ranah produksi, ada berbagaimacam cara untuk kemudian bisa menjadi solusi dalam mengurangi angka pengangguran di Indonesia, dan yang lebih memungkinkan untuk direalisasi ialah pengurangan jam kerja, pengurangan jam kerja dari (yang sebelumnya) 8 jam menjadi 6 jam. Pengurangan jam kerja dari 8 jam menjadi 6 jam akan merubah jika pembagian kerja di lapangan-lapangan pekerjaan, yang tadinya hanya 3 sift kemudian berubah menjadi 4 sift, yang berarti bisa menampung masyarakat yang tidak bekerja, dengan kata lain akan mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.

Terakhir, Hal yang terpenting adalah menyikapi mekanisme dan aturan kerja yang berlaku di Indonesia maupun yang berlaku di Negara pengirim, bukan menolak Tenga Kerja Asing atau tenga kerja dari manapun yang berlatar belakang ras apa pun, bahasa apapun dan agama apa pun.

Cat: Tulisan ini merupakan bentuk respon terhadap rencana Aksi Mayday (Hari Buruh Sedunia) tahun 2018 oleh beberapa kelompok Mahasiswa yang tergabung di dalam Aliansi yang sama.

AR. Sain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar