Balasan Untuk Marmoet, Perihal Parepare dan Ekonomi Global - Ngemper

Balasan Untuk Marmoet, Perihal Parepare dan Ekonomi Global

Share This
Hal ini berawal dari status update di laman facebook saya beberapa hari yang lalu, didalamnya secara singkat saya coba terangkan tentang bagaimana situasi atau konstalasi politik hari ini yang kemudian menerangkan pula tentang pembangunan di Kota Parepare yang sejatinya tidak membawa kepentingan bagi rakyat kecil. Demikian status up date tersebut :

“Walaupun dalam konstalasi politik internasional yang tak menentu, gencar pembangunan Rezim Jokowi-JK tetap eksis di kanca ekonomi global. Terbukti banyaknya lingkaran2 setan yg dimasuki pemerintah (indonesia), mulai dari hubungan bilateral sampai pada multilateral. Di kota Parepare khususnya, beberapa turunannya ialah pembangunan KIPAS (Kawasan Industri Parepare dan Sekitarnya)--Kelompok pasar AJATAPPARENG, KAPET (Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu), Tata Ulang Kota, pelabuhan Internasional, Reklamasi pesisir Cempa'e, fly over, rel kereta Api--trans Sulawesi, dll.

Pada akhirnya, pembangunan (pengembangan Industri dan faktor pendukungnya) di dalam sistem ekonomi global (neoliberalisme), tidak akan pernah bervisi kerakyatan. Pembangunanya tdk akan pernah berpihak atau ditujukan pada masyarakat yg ber-ekonomi menengah kebawa.”

Dihari yang sama Salah seorang Senior di Kampus membalas status update tersebut, bangga rasanya sebagai seseorang yang mengagumi beliau akhirnya dapat berdiskusi walaupun hanya di sosial media. Seperti ini komentar/sanggahan terakhirnya :

“Saya pikir pemerintah lebih paham tentang ruang2 produkttof teruntuk kawasan industri dan perdagangan. Pemukiman2 penduduk tidak serta merta mendapat penggusuran, selalu ada norma yang berlaku sesuai dengan undang-undang. Jangan berpikir hitam putih dulu. Suprastruktur dan infrastruktur berpusat di Pulau Jawa. Sekitar 60% penduduk Indonesia berada di pulau Jawa. Dengan jumlah penduduk no. 5 di dunia dan memiliki banyak pulau tidak semestinya kepadatan itu bertumpuk disatu titik saja. Karena kurang pemerataan pembangunan di daerah, maka hal itu memicu terjadinya pembludakan penduduk di Pulau Jawa. Dengan sistem desentralisasi dan otonomi daerah, maka pemerintah di daerah2 harus menggalakkan pembangunan, agar terciptanya stabilitas di beberapa sektor. Pembangunan2 yang terlaksana di daerah memungkinkan pemerataan dan daya tarik sendiri agar terjadinya keseimbangan dalam hal kependudukan. Misalnya di parepare, dengan berdirinya kawasan industri dan perdagangan bisa mendorong pendewasaan sektor2 yang lain. Beberapa investor akan masuk dan membawa lapangan kerja bagi masyarakat. Juga apa yang terjadi di kec. Suppa, Kab. Pinrang, munculnya perusahaan milik asing juga memberikan konstribusi positif dengan posisi tawar yang lebih menguntungkan untuk penduduk di sana. Nah ada banyak nilai yang bisa ditawarkan. Tetapi ada juga pendirian kawasan industri yang membahayakan, jika sudah menyentuh habitat dan ekosistem lingkungan, seperti hancurnya lahan-lahan manggrove yang pada dasarnya akan berakibat buruk pada lingkungan dan bumi.

Selang beberapa menit saya mencoba membalas komentar tersebut. Pertama, yang saya terangkan sebelumnya hanya menjadi dampak-dampak yang sering terjadi, bukan hanya soal dampak lingkungan, tapi saya terangkan juga bagaimana kemudian buruh-buruh atau pekerjanya, apakah akan dipekerjakan secara layak ? apakah hak normatifnya (diatur dalam UUK Th. 2003) akan diberikan ? itu hanya menjadi contoh hal-hal yang sering kali terjadi sebagai buah dari sebuah rentetan proses revolusi industri abad 21.

Kedua, harus di ketahui sebelumnya bahwa semenjak runtuhnya komune paris (1871), ekonomi global telah ter-upgrade. Liberalism yang telah cacat pengembangannya berganti menjadi ekonomi global yang lebih massif dan tetap membawa semangat eksploitatif.

Jatuhnya rezim Orde Lama-atas sebuah peristiwa pemberangusan kaum (Genosida)-yang kemudian menghantarkan Soeharto beserta rezim orde barunya sebagai “the only Hero”. Semangat penghisapan orde baru ternyata berjalan searah dengan semangat eksploitasi kelompok imperium-yang pada waktu itu di intervensi oleh AS cs.

Memanfaatkan kapitalisme cangkokan sisa kolonial belanda, orde baru melanjutkannya dengan “jidat yang telah ber-stempel-kan Neoliberalisme”. Gencar semangat pembangunan pun dilakukan, legalitas pembangunan pun dicipta hingga membuat Undang-undang bak semacam catatan anggaran atau investasi yang masuk, orde baru pun kian eksis di kancah perekonomian global, lalu lalang dari lingkaran satu ke lingkaran yang lain. bahkan tak heran jika masa depan tanah air dijadikan jaminan hutang.

Gambar Oleh Arsain
Abad 21 menjadi bukti bahwa kapitalisme telah menapaki titik-titik tertingginya. Walau demikian-karena pada hakekatnya pun, dalam perkembangan kapitalisme, ia akan selalu melukai dirinya sendiri-krisis sering kali terjadi,biasanya disebabkan oleh over produksi. Bukti krisis fase imperium kapitalisme ini, ialah meningkatnya jumlah kematian, pengangguran, rakyat miskin, semakin bertambahnya (ditemukannya) virus/penyakit baru, krisis manusia (peperangan ; rasialisme, chauvinism, radikalisme agama dan fasisme/persekusi), dll. Semuanya tidak hanya membuktikan terjadinya krisis ditubuh sistem abad millennium ini tapi juga memberikan tontonan yang seharusnya Kak Marmoet dan saya sendiri mampu menganalisa, bahwa konstalasi politik global tengah rapuh dan kacau balau. Bahkan terpilihya Trump “kemarin sore” tak memberikan signifikansi (yang bersifat memajukan kelompok imperium AS) terhadap mekanisme pasar yang ada, dan telah terjadinya krisis kepercayaan terhadap rezim AS Cs. di International Monetary Fund. Tidak hanya itu, kelompok imperium baru mulai bermunculan, seperti Rusia Dkk. yang tengah merapatkan barisannya bersama Negara sekutu (BRICS), dan badan keuangan-bagi Negara-negara yang telah cabut diri dari IMF-juga telah memulai pondasi didataran Amerika Latin (ALBA).

Konstalasi politik yang tak menentu inilah yang kemudian memaksa Indonesia menjadi Negara yang “oportunis”, ia tak memihak AS cs, dan ia juga tak berkongkalikong dengan Rusia Dkk. Akhirnya apa, mega proyek hasil perselingkuhan di meja WTO (World Trade Organization) pun tak berjalan. Itulah yang mengakibatkan berubahnya visi pembangunan MP3EI yang dirangkaikan dengan rilisnya pengembangan Ekonomi Jokowi-JK Jilid I, II, III, IV, dan seterusnya. Konstalasi politik yang tak menentu ini juga memaksa Rezim Jokowi-JK kembali “memadu kasih” di berbagai lingkaran setan, entah itu dengan hubungan bilateral atau pun multilateral.

Tersendaknya KIPAS tak hanya dipengaruhi oleh pembebasan lahan yang tak kunjung usai dilakukan Pemkot Parepare, tapi juga karena cacatnya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang memang terlahir premature oleh ibu tiri GATS-WTO.

Setelah KIPAS, kini muncul KAPET (Kawasan Pembangunan Ekonomi terpadu) buah hasil dari perselingkuhan hubungan bilateral Indonesia, Brunei, Malaysia, dll. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pembangunan kawasan industri harus juga didukung oleh pembangunan infrastruktur, seperti rel kereta api, pelabuhan internasional, dll. Selain itu, daerah-daerah “dengan otoritasnya” dipaksa dewasa mengkonsolidasikan pasarnya, itulah mengapa kelompok-kelompok pasar di berbagai daerah pun mulai muncul (Contoh ; BOSOWA, MAMMINASATA, AJATAPPARENG, dll.)

Sungguh sangat disayangkan jika seorang seperti Kak Marmoet tidak mampu memberikan analisa kritis yang menekankan keberpihakan klasnya. Padahal pikirku, PMII sebagai pelopor gerakan di lingkungan mahasiswa mempunyai posisi tawar yang mampu membangun kapasitas intelektual individu-individu yang ada di dalamnya, sangat disayangkan juga ketika pelopor gerakan sekaliber PMII tidak mampu menunjukkan keluasan cakrawala pengetahuannya dalam membedah konstalasi politik hari ini.

Sekali lagi tentang ekonomi global hari ini, saya berani menegaskan bahwa semangat pembangunan Rezim Jokowi-JK hari ini tidaklah didorong atas keinginannya melakukan pemerataan pembangunan atau karena “disentralisasi” yang diungkap Kanda Marmoet sebelumnya. Daerah (salah satunya Parepare) hanya menjadi “kelinci percobaan” atas eksperimen ekonomi global yang tengah dilanda krisis.

Cat: Tulisan ini merupakan tulisan lama, yang merupakan respon penulis terhadap komentar panjang di kolom komentar status up date di laman facebook penulis (beberapa tahun lalu). Tulisan ini di publish kembali di Blog pribadi penulis, yang bertujuan hanya untuk menjadi bacaan bagi yang sempat menemukannya di Internet, dan tentunya juga sebagai pengarsipan pribadi. Penulis tidak merubah satu kata pun dalam tulisan ini.

AR. Sain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar