Tulisan ini sebagai klarifikasiku
atau bahkan justru meminta klarifikasi jika pun ada anggapan
ke-tidakproduktif-an diriku sebagai kader. Sebelumnya, saya ingin Tanya,
sebenarnya seperti apa produktifitas kader itu ? karna agak lucu ketika
berlandaskan pada pengerjaan Koran Arah Juang edisi IV yang awalnya sebagai
tugas yang telah kusanggupi dan kini dikerjakan oleh kawan Ade, yang kemudian
melahirkan anggapan “Amang tidak produktif” ? Tetapi sebelum kesitu, saya coba
flashback dari pertama kali datang ke Jakarta.
Awal tahun 2015 saya tiba di Jakarta, tepatnya di sekre Utan Kayu.
Singkat cerita, saya diserahi tugas untuk mengerjakan sector student sebagai
kerja kerpartaianku, sembari menemani Kawan Sultoni ke daerah-daerah/basis-basis
buruh yang pada dasarnya juga sebagai proses belajar diriku di sector buruh
yang sebelumnya belum pernah saya kerjakan.
Dalam hal kerjaku sebagai seorang
kader, saya mencoba mengambil alih pusat koordinasi di SGMK dan mendorong atau
sebagai langkah percepatan kongres SGMK yang sedari JGM – JGMK – SGMK pun belum
berkongres. Sebagai pusat koordinasi, saya mencoba mengkoordinasikan
kawan-kawan disetiap daerah dan mendorong kegiatan kemping politik yang
ternyata sudah direncanakan semasa kepemimpinan Pay dan Desi. Kemping politik
berjalan walaupun tidak dihadiri secara massif kawan-kawan daerah.
Setelah kemping politik, saya
mencoba melakukan pengorganisiran di sector pelajar, yang pada saat itu di
bantu sama kawan Wawan (yang memang sebagai RTL setelah kemping politik, guna
mengikat wawan di lingkaran kita). Kami berhasil mendatangi beberapa sekolah,
bahkan diberikan ruang yang sangat potensial untuk melakukan pengorganisiran di
sector pelajar. Dari aktifitas itu, telah terencana “Jalan-jalan Ilmiah” sebagai
kegiatan awal untuk melakukan pengorganisiran. Tetapi seperti halnya kemping
politik, ia tak berjalan sesuai yang diharapkan sebelumnya.
Kedatangan Iwank di Jakarta memberi suntikan semangat untuk lebih
giat dalam pengerjaan kerja-kerjaku disektor student dan pemuda (cat: tidak
memprioritaskan Mahasiswa karena berbagai macam pertimbangan di ruang-ruang
diskusi kader). Tetapi putusan beberapa kader dan juga menjadi pilihan pribadi
Iwank untuk terlibat dan diperbantukan di Ormas buruh dalam hal ini SGBN, tapi
itu tidak berefek pada kerja-kerjaku, toh Iwank pun (saat) itu belumlah menjadi
bagian dari partai bahkan di SGMK pun terbilang baru, sehingga-menurutku-tak
berhak untuk mengintervensi pilihannya lebih dalam (bukan berarti tidak bisa).
Saya kembali mengerjakan
kerja-kerja yang memang sudah diserahi dan juga telah kusanggupi sedari awal.
Saya mencoba menyambung komunikasi ke beberapa organisasi siswa maupun
mahasiswa dan juga melibatkan diri dalam AMI Aliansi Mahasiswa Indonesia, juga
turut mengerjakan kerja-kerja turunan dari ruang diskusi dan rapat PPRI bersama
PEMBEBASAN.tetapi sekali lagi tidak berjalan secara massif dan progress.
Analisaku juga menjadi pandangan beberapa organisasi mahasiswa yang ku temui
bahwa animo mahasiswa dalam berorganisasi memang tengah menurun drastis.
Berkurangnya kerja-kerja di
sector student tidak kemudian membuat saya diam di sekre, saya tetap mengikuti
kawan Sultoni setiap kali mengunjungi basis, atau terlibat dalam kerja-kerja
keserikatburuhan yang bisa saya kerjakan, karena seperti yang kusampaikan
sebelumnya, sebagai proses belajarku untuk mengerjakan kerja-kerja di sector
buruh (walaupun pada dasarnya, itu bukan kerja-kerja utama sebagai kader di KPO
PRP).
Singkat cerita, saya memilih untuk terlibat didalam kolektif kota
Bekasi bersama kawan Bona, yang saat itu memang sudah ada anggapan diriku untuk
segera melepaskan diri dari kerja-kerja di sector student dan mengutamakan
kerja-kerja di sector buruh, walau pada akhirnya itu pun terbantahkan oleh
kawan Mika, yang memang saat itu belumlah tepat, karena masih menjadi kebutuhan
untuk mengkoordinasikan SGMK dan mengorganisir pelajar-pelajar di JATABEK.
Ternyata di bekasi sama halnya di
Jakarta, ketidakmampuan mengerjakan sendiri selalu menjadi penghambat untuk
melakukan pengorganisiran pelajar, yang akhirnya saya mencoba mengerjakan
kerja-kerja yang bisa saya kerjakan di sector buruh, juga menghindari anggapan
terhadap diriku yang “numpang” di sekre Federasi Progresip tetapi tidak
mengerjakan kerja-kerja keserikatburuhan, karena memang agak sulit menjelaskan
ke massa buruh bahwa, saya harus memprioritaskan diriku dalam kerja-kerja
pengorganisiran student.
Kolektif Bekasi ternyata
memberikan ruang terhadap diriku untuk lebih memajukan produktifitasku sebagai
seorang kader, saat itu, karena melihat kondisi kawan Bona yang masih terbebani
oleh kerja-kerja keserikatburuhan dalam hal ini Advokasi kasus perburuhan, saya
menanggungjawabi kolektif bekasi, mencoba menjalankan putusan-putusan yang
lahir dari ruang diskusi dan rapat kader se-JATABEK maupun yang diputuskan di
ruang rapat dan diskusi kolektif bekasi itu sendiri.
Saat menjalankan kerja-kerja
dibekasi sebagai sentral komunikasi kolektif, saya mendapat tawaran pekerjaan
yang sangat potensial untuk mengorganisir pelajar dan mahasiswa, yaitu Sekolah
Politik yang diselenggarakan KPK dan Yayasan SATUNAMA. Singkat cerita,
berangkatlah saya dengan hasil dan putusan-putusan diskusi bersama kader yang
lain. salah-satu putusannya ialah, meng-ada-kan RTL setelah kegiatan Sekolah Politik
itu, guna menjaring kontak-kontak yang saya sudah dapat. Ternyata
pelajar-pelajar atau kontak-kontak dari Sekolah POlitik KPK bersemangat untuk
terlibat atau mengikuti rute yang telah kita (partai) buat sebagai RTL.
Kampanye event Pensi se-JAKARTA pun berhasil merangsek ke berbagai sekolah. Saat
itu, hal tersebut seolah menjadi pintu untuk kita mengorganisir pelajar
terkhusus di JATABEK, tapi pada akhirnya juga tak terealisasi sesuai dengan
“bacot” kader di ruang-ruang rapat dan diskusi. Pelajar-pelajar yang sudah
meng-iyakan untuk megikuti rute yang telah kita sodorkan pun, datang menagih,
saya pribadi tidak bisa berbuat apa-apa yang kemudian berimbas pada “lose
contact” dengan pelajar-pelajar tersebut. Dari pengalaman ini juga sempat
menimbul kekecewaan terhadap diriku yang seolah sepenuhnya harus mengerjakan
sector pelajar dengan sendirian (tanpa tandem).
Selajutnya dan singkat cerita. Karena adanya musibah yang tidak
mengenakan, yang mengharuskan saya untuk pulang ke Sulawesi tepatnya di akhir
tahun 2016, awal tahun 2017 saya kembali ke Jakarta yang di awali dengan
komunikasi WA dengan kawan Bona bahwasanya saya ingin belajar disektor buruh,
yang secara tidak langsung menegaskan “saya ingin terlibat didalam kerja-kerja
keserikat buruhan, tidak hanya sebagai kader yang diperbantukan tetapi terlibat
sebagai bagian dari organisasi. Bahkan di lain waktu, saya pernah bilang ke
kawan Bona bagaimana jika saya dimenangkan sebagai bagian kepengurusan dalam
kongres federasi progresip (yang mendekat ini akan terselenggara). Sebelumnya
bahkan sudah sejak lama saya berpikiran untuk menanggalkan kerja-kerja di
sector pelajar dan terlibat didalam serikat buruh, tetapi seperti yang
kusampaikan sebelumnya, hal itu pun terbantahkan oleh kawan Mika karena
beberapa pertimbangan yang memang “saat itu” belumlah tepat.
Terakhir, walau banyak hal yang belum ku uraikan : Setelah kembali
ke Jakarta di awal tahun 2017, saya mengambil alih pengerjaan Koran Arah Juang
edisi II (sebagai putusan atas konflik yang terjadi di tubuh KPO) yang
sebelumnya dikerjakan kawan Ade, saya mengerjakan Koran AJ dari edisi II dan
III, tiba pada pengerjakan edisi IV, saya sudah menegaskan dalam rapat bahwa
semua tulisan sudah harus diselesaikan jauh sebelum target percetakan Koran
agar saya yang mengerjakan layouting tidak kesusahan (dipengaruhi oleh aplikasi
yang saya gunakan). Pada dasarnya saya tidak pernah melempar tugas ke kawan Ade
yang memang itu sudah menjadi kerja yang kusanggupi sedari awal (dengan
beberapa catatan, seperti yang kutuliskan sebelumnya). Waktu yang mepet tidak
memungkinkan untuk mengerjakannya dengan Photoshop, artinya apa, sekali lagi
saya tidak pernah melemparkan tugas ini ke kawan Ade, saya hanya bilang ke
kawan Mika bahwa saya butuh tandem untuk mengerjakannya jika target percetakan
se-mepet itu. Template Koran AJ edisi IV pun sudah saya kerjakan, tapi akhirnya
hanya menjadi file yang memenuhi memori laptop saya. Saya pun sadar dengan
kondisi kader masing-masing, terkhusus kawan Mika yang harus mengerjakan dan merapikan
tulisan sindirian.
Situasi gerakan yang tengah
meredup, ternyata benar mempengaruhi kita, saya yakin bahwa kondisi kepartaian
berbanding lurus dengan kondisi kader-kadernya, saya pun mengalami kemunduran
dalam berbagai macam hal, bahkan pikiran balik ke Sulawesi pun pun sudah
terbesit dua bulan terakhir, seolah ada bisikan serak, “jika sudah merasa tidak produkti di pusat, segera pulang !”. bahkan
ekstrimnya, di laptop sudah saya siapkan surat pengunduran diri, atau pengajuan
sidang terhadap diriku, jika pun memilih untuk mundur (hal demikian pun pernah
ku keluhkan ke kawan Alang).
Jadi kembali ke pertanyaan awal,
kita anggap saja tidak ada yang beranggapan demikian, anggap saja sebagai
pertanyaan pribadi terhadap diriku sendiri. sebenarnya bagaimana sih produktifitas kader itu ? serta dimana letak
ke-tidak-produktif-an diriku ?
***
Lama setelah tulisan diatas terkirim
ke Komite Nasional Kongres Politik Organisasi – Perjuangan Rakyat Pekerja (KS
KPO PRP), yang kemudian tidak dibahas lanjut juga, saya pun akhirnya kembali ke
Sulawesi di pertengahan tahun 2018. Kepulanganku (awalnya) hanya saya anggap
sebagai libur lebaran. Tapi banyak hal yang tidak terduga, saya akhirnya terperangkap
oleh berbagaimacam tuntutan keluarga yang secara pribadi juga saya sadari
(setelah berlama-lama di Polman dan parepare) merasa betah.
Saya sempat berkomunikasi dengan
beberapa kawan, termasuk Bona terkait kepulanganku yang masih samar-samar. Saya
menceritakan banyak hal kepada kawan Bona perihal apa yang membuatku harus stay
di Sulawesi sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Saya berpikir bahwasanya
seorang kader haruslah mampu mengerjakan tugas kader sesuai dengan prinsip dan
program perjuangan partai dimana pun dan dalam kondisi apa pun. Saya tiba di
Parepare membawa program pengerjaan media yaitu ngemper.com yang merupakan media
alternative. Hal itulah yang kemudian membuat saya terjun didalam
pengorganisiran kaum intelektual seperti sebelumnya, karena target dari program
tersebut memang kalangan muda terkhusus mahasiswa. Ngemper berjalan walaupun
pada akhirnya tersendak, beradaptasi dengan lingkungan lama yang mulai asing
lagi menjadi kebutuhan mendesak, serta aktif di dunia literasi (yang awalnya
tak pernah saya lakoni) juga memacu energi.
Tidak hanya aktif dengan kelompok
non klas tersebut, tetapi juga mencoba melakukan pengorganisiran di berbagai
perusahaan seperti perusahaan biota laut di daerah pesisir Pinrang dan
lagi-lagi terhambat oleh beberapa hal (yang akan panjang jika saya runut dan
jelaskan disini).
Terlepas dari semua hal di atas,
yang mendasar juga salah-satuya adalah kemunduran pribadi yang entah
dipengaruhi oleh apa. Saya mencoba meregulerkan aktifitas-aktifitas GPMD SGMK
dengan maksud akan mampu menjadi lingkungan yang akan menjaga semangat
perjuanganku. Tetapi lagi-lagi hal itu pun berjalan tersendak. Hingga saat ini
saya masih bertahan di Sulawesi, tanpa terpikir tuntutan kuliahku di sana,
tanpa terbebani tuntutan sebagai seorang kader. Walau demikian, saya masih dengan
keyakinan yang sama dengan keyakinan kolektif di Partai.
TTD
AR. Sain
AR. Sain

pilihan haruslah dipilih bukan dihindari !
BalasHapus