Aku Mencintaimu Suamiku
“Ketika Cinta dan Penyesalan Terasa Di Ujung Waktu”
DAFTAR
ISI
Air
Mata Di Pemakaman Tua
Suamiku
Hidup Dalam Buku Dan Film
Kembali
Ke “19 Tahun Yang Lalu”
Parepare
di Malam Hari
Jatuh
Cinta Dan Kecemburuan
Wilda
Penghapus Kecemburuan dan Pencipta Kecemburuan
Cinta
Mulai Tumbuh
Air Mata Di Pemakaman Tua
16 Maret 2015
16 Maret 2015
Langit mulai
terlihat mendung di sekitar pemakaman umum Parepare, berbeda dengan salah-satu
kuburan di pojok kiri pemakam itu. Disana telah lama hujan, hujan air mata
penyesalah namun penuh kasih tersirat. Air mata dari seorang ibu muda bersama
anak laki-laki semata wayangnya. Air mata itu terus jatuh ke pusara yang ada di
depannya, pusara dengan batu nisan yang bertuliskan “Aku mencintaimu Suamiku....”. Ibu muda itu bernama Fatmawati
Rachman dan anaknya Abdul Rachman.
Air mata dari ibu
muda itu masih saja keluar dan jatuh ke pusara yang begitu indah dengan
macam-macam kembang dan setangkai mawar merah di atasnya. Hingga hujan
benar-benar turun dari langit yang sedari tadi telah memberikan tanda akan
kehadirannya.
“Ayo mi ma’.... turun mi hujan” anaknya berdiri dan mengangkat pundak ibunya yang masih saja menangisi
pusara itu. Dengan suara yang masih terseduh dan terus memandangi pusara itu
seakan tak mau meninggalkan pusara seseorang yang terlihat begitu ia cintai,
Anak itu merangkul ibunya dan berjalan menuju mobil mewah yang terparkir tepat
di depan pemakaman tua itu.
17 Maret 2015
Tidak salah jika
ibu muda yang kesehariannya sering di sapa Fatma ini terlihat sangat mencintai
seseorang yang tengah beristirahat dengan pusara yang begitu indah di pemakaman
tua kemarin. Pusara itu adalah pusara suaminya yang semasa hidupnya banyak
memberikan arti cinta yang Fatma sendiri lambat memahami arti-arti cinta itu.
Begitu besar cinta sang suami kepada Fatma, hingga mampu merubah hidupnya
walaupun itu di akhir-akhir hayat suaminya. Bahkan sampai sekarang dimana Fatma
belum berfikir untuk menikah lagi, dengan alasan yang sederhana, ia belum
menemukan lelaki sebaik suaminya yang telah pergi, ia bahkan menikmati hidupnya
menjadi seorang Single Parent atau ibu sekaligus bapak terhadap anak semata
wayangnya. Dan menjadikan Fatma menjadi sosok wanita yang lebih baik lagi,
menjadi seorang tokoh penulis terkemuka di Indonesia dan menjadi panutan serta
ibu bagi mahasiswa-mahasiswanya di sebuah universitas swasta tempatnya mengajar
sebagai Dosen sastra.
Fatma menjalani
kehidupannya dengan penuh cinta yang telah di wariskan oleh suaminya. Memandang
dari mata orang-orang di sekelilingnya memang fatma terlihat sebagai sosok ibu
yang begitu tegar dan bahagia. Namun ternyata di dalam hati Fatma sendiri telah
lama cinta dan penyesalan berkecamuk seakan membuat fatma begitu rapuh walau
tak terlihat dari luar. Entah apa yang membuatnya menyimpan penyesalan yang
begitu sangat mendalam.
Suamiku
Hidup Dalam Buku dan Film
20 Maret 2015
20 Maret 2015
Duduk di sebuah
sofa kecil di dalam kamarnya, Fatma terlihat sedang mengetik sebuah naskah
Novel dengan komputer tua miliknya, dengan kaca mata sebagai alat bantu
penglihatan karena memang matanya sudah tak lagi setajam sewaktu ia masih
seorang gadis manja semasa SMAnya, dan juga rambutnya yang beberapa helai mulai
terlihat putih, namun Fatma tetap serius mengetik Naskah Novel barunya itu.
Fatma memang gemar menulis sejak SMP namun ia baru serius menekuni hobinya itu
sejak sang suami meninggal dunia. Sudah beberapa bulan terakhir ia tidak lagi
mengeluarkan buku-buku tulisannya yang telah banyak di gemari di semua kalangan
di Indonesia dan bahkan satu diantara novelnya sudah ada yang di Artikan dalam
tiga bahasa. Kehidupannya yang berkecukupan sekarang memang di dapat dari buah
karyanya sebagai seorang penulis dan juga sebagai seorang Dosen.
Sosok suami masih
selalu dan mungkin akan selalu terbayang hingga ia bertemu dengan sang suami di
dunia lain nantinya. Maka dari itu Fatma menuangkan kisah hidupnya sejak
bertemu dengan sang suami sampai hari ini di dalam sebuah novel. Baginya ini
merupakan curahan hati darinya yang akan di baca dan di dengar oleh pembaca
buku-bukunya.
Untuk bukunya kali
ini, Fatma tidak berharap akan menuai kesuksesan seperti buku-bukunya
terdahulu. Fatma hanya ingin menceritakan kembali sebuah kisah yang penuh
dengan cinta namun juga menyisakan sebuah penyesalan. Ia hanya berharap
suaminya tahu akan cintanya yang begitu besar walaupun buah cinta itu tak
begitu lama ia dan suaminya rasakan kebahagiaan yang tersimpan di dalamnya.
Fatma tak
menyianyiakan waktu senjangnya itu untuk beristirahat, fatma justru mengisinya
dengan ketik dan mengetik naskah novel yang ia harapkan sesegera mungkin bisa
selesai. Dengan ketekunanya itulah hingga hanya sebulan ia bisa menyelesaikan
bukunya. Tak menunggu lama Fatma langsung mengirimkan buku naskah barunya
kepada sebuah penerbit untuk di bukukan dan diterbitkan. Sebuah penerbit yang
memang tempat buku-buku Fatma lainnya di terbitkan.
19
Mei 2015
Sudah beberapa
hari terakhir sejak di terbitkannya buku baru dari seorang penulis yang
terkenal dengan novel-novel cintanya, tangis dan haru sebagai ekspresi dari
para pembaca novel terbaru Fatma. Novelnya telah banyak terjual bahkan sudah
beredar ke beberapa kota-kota besar di Indonesia. Apresiasi haru dari para
pembaca terus berdatangan, mulai dari Akun facebooknya, twitter dan bahkan para
pembaca dan penggemarnya datang langsung mengucap selamat atas kesuksesan dari
Novel terbarunya. Fatma sendiri tak pernah menyangkah akan seuphoria ini dan
menjadi trending topic di setiap pembicaraan bahkan juga di dunia maya. Novel
yang berjudul “Persembahan Rinduku
Padamu” dan begitu sederhana ini ternyata banyak menyentuh hati para
pembaca.
Sampai beberapa
hari kemudian, orang-orang masih saja membicarakan novel itu. Bukan hanya itu,
novel yang dua hari yang lalu mendapat penghargaan ini sebagai “Best Seller”
dan bahkan lagi semakin banyak permintaan untuk mencetak kembali buku itu.
“ceritanya sangat menyentuh, buku ini
memberikan banyak pelajaran akan cinta yang begitu besar namun lambat untuk
memahami kebesarannya.... novel ini akan lebih bagus lagi jika di Filmkan.....”
kata
seorang produser Film yang tengah di wawancarai oleh wartawan sebuah program
Infotainment di Televisi. Dengan senyum bahagia, Fatma dan anaknya menonton
televisi di ruang keluarga di rumahnya. Bagi Rachman anak semata wayangnya,
senyum yang terlukiskan di wajah ibunya itu jarang sekali ia lihat. Mungkin
karena penyesalan itu yang masih terbayang.
20
Mei 2015
Pagi-pagi buta
Fatma mempersiapkan sarapan untuk Rachman anaknya. Setelah itu ia langsung
berangkat ke kampus dimana ia menjadi Dosen. Mahasiswa-mahasiswanya mungkin
sudah menunggu dan lagi pula hari ini ia harus begitu semangat dan bugar karena
setelah mengajar di jam pertama ia harus menghadiri acara bedah buku
“Persembahan Rinduku Padamu” karyanya sendiri. Ia hadir untuk menjadi
narasumber sebagai penulis dari buku yang akan di bedah. Semangatnya begitu
terpancar keluar bahkan seakan tertular ke orang-orang yang di laluinya, bahkan
tubuhnya juga terlihat bugar. Memang seperti itu harusnya, selain kampus yang
ia tempati mengajar sedang mengadakan kegiatan bedah buku olehnya, ia juga
baru-baru telah di datangi oleh seorang produser film yang berniat mengadaptasi
novelnya ke sebuah film layar lebar. Tanpa pikir panjang fatma langsung
mengiyakan maksud dari produser itu. Semua itu di lakukan fatma bukan karena
harga hak cipta yang begitu mahal di terimanya, namun yang terpenting adalah
niat awalnya yang memang berniat untuk membukukan dan memfilmkan kisahnya
sebagai ajang curahan hati sang perindu sepertinya.
Kegiatan bedah
buku di gedung aula kampus akhirnya selesai. Semangat dan kebugarannya masih
juga seperti sedia kala bahkan setelah mengakhir jam terakhirnya di sore hari
dan bahkan sampai di rumah. Di rumah sudah ada Rachman anaknya menunggu. “Sudah jaki’ makan nak...?” tanya Fatma
kepada anaknya. “sudah mi’...” jawab
Rachman walaupun dengan wajah yang lemas seakan belum makan seharian. “isshhh.... kenapa si itu lagi muka na jelek
skali di liat..?” canda Fatma kepada anaknya, ia kemudian merangkul dan
membawanya duduk di atas sofa di ruang keluarganya “ada masalah ta ga... cerita ki sama mama” tanya lagi Fatma kepada
anaknya perihal wajah lemas anaknya itu. Hingga fatma merasa terguncang setelah
mendapat pertanyaan balik dari anaknya yang menyinggung orang yang sudah lama
ia hapus dari ingatannya walaupun masih sempat ia ceritakan sosoknya di dalam
bukunya yang baru. Ya seseorang yang termasuk tokoh penting di kisahnya bersama
sang suami. “ma’.... tidak pernah pi saya
baca buku ta yang baru bahkan tidak mau ka bacai karena ada kisah yang tidak
mau saya ingat. ma’... asalkan kita taui... ku sayang skali bapak dan bahkan
rindu sekali ka juga sama Alm. Walaupun bukan ka anak kandungnya, tapi sudah
saya anggap mi sebagai bapak kandungku sendiri. Tapi kenapa sekarang mau sekali
ka tau siapa sebenarnya bapak kandungku.... ma’..?” tanya balik Rachman
yang secara tiba-tiba mengungkit kembali masalah yang bahkan telah mereka
sepakati untuk tidak di bahas lagi. Marah sempat menjadi jawaban dari tanya
yang di lontarkan Rachman anaknya. Bahkan ada sedikit rasa penyesalan karena telah
menceritakan kembali kisah lalu itu ke dalam buku bahkan juga di Filmkan. Fatma
merasa ini adalah salahnya sendiri, jika ia marah kepada anaknya karena
mengungkit kembali sosok itu, harusnya ia marah kepada dirinya dulu karena
ialah yang terlebih dahulu mengungkitnya bahkan lewat sebuah buku dan Film.
Senyap seketika
pembicaraan panas antara ibu dan anak itu, hingga Fatma berpikir untuk menjawab
dengan lurus-lurus saja. Ia juga berpikir bahwa Rachman memang harus mengetahui
siapa, bagaimana, dan dimana ayah kandungnya sekarang berada. Dengan penuh
kasih sayang sebagai seorang ibu, fatma dengan hati yang tegar menceritakan
kembali khusus kepada anaknya tentang kisahnya bersama Ayahnya atau suami dari
ibunya dan juga Ayah kandungnya.
Kembali
ke19 Tahun Yang Lalu
4 Februari 1995
4 Februari 1995
Dedaunan kering
kecoklatan berjatuhan dari ranting pohoh-pohon sekolah disaat hembusan angin
yang begitu kencang datang dan seakan memaksa pepohona sekolah untuk menari.
Hal itu menjadi pemandangan yang begitu indah terlihat sekitar jam 10 pagi
tepatnya di sebuah sekolah menengah atas. Di sela hembusan angin yang dinginnya
menusuk hingga ke tulang dan di antara dedaunan kering yang berjatuhan terlihat
seorang gadis cantik menebar senyumnya seakan memperindah pagi itu. Gadis itu
adalah Fatma yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas. Fatma
sangat menyukai angin, baginya angin mampu membuat pohon-pohon dan dirinya
menari.
“Ting.. tong....” bel
masuk untuk mengikuti pelajaran selanjutnya sudah berbunyi. Fatma dengan cepat
beranjak dari halaman sekolah tempat ia menari dengan pepohonan sekolah. Di
dalam kelas fatma merupakan siswa yang cerdas, cantik, manja, namun juga
sedikit jail kepada teman-teman sekelasnya. Sosok ramah dan periang dari fatma
membuat fatma menjadi sosok yang di sukai oleh teman-temannya bahkan bukan
hanya untuk di jadikan teman tapi juga ingin di jadikan kekasih oleh
teman-teman lelakinya.
Di saat pelajaran
sudah di mulai, fatma masih terlihat gelisah dan sesekali menengok keluar
kelas. Fatma bukannya gelisah karena proses belajar dan juga ia menengok keluar
bukan karena ia masih ingin menikmati waktu istirahatnya, tapi ia sedang
mencari seseorang, dia adalah sahabatnya. Seorang lakil-laki gagah, kaya,
pintar, namun tidak sombong layaknya seperti sebahagian besar orang kaya di
sekolahnya. “Assalamu Alaikum.... maaf
terlambat ka bu’...” seorang laki-laki masuk dengan nafas yang masih
tergopoh. “dari mana ki’...?” tanya guru yang sedang mengajar di kelas
fatma. “dari ka kantin bu’... maaf..” jawab
laki-laki itu dan langsung masuk ke ruang kelas menuju ke arah fatma dan
kemudian duduk di sebelah fatma. Dia lah orang yang membuat Fatma gelisah dan
sesekali menengok keluar kelas. Dia lah sahabatnya seseorang yang telah lama ia
kenal bahkan terus bersamanya sejak ia bersama-sama sekolah di salah satu SMP
swasta di kotanya. “isshhh.... kau toh..
makan terus mu tau” tanya fatma dengan sedikit kesal. Sahabatnya itu hanya
tertawa untuk menjawab tanya dari Fatma.
Hari-harinya di
sekolah di lalui fatma dengan penuh keceriaan. Bukan hanya karena menjadi
seorang tuan putri di samping sahabatnya yang hampir setiap harinya di sekolah
ia habiskan bersama sahabatnya itu, tapi juga ternyata keceriaan itu bersumber
dari seorang laki-laki lain yang menjadi sosok idolah bagi fatma di sekolahnya.
“weededeehh... cokka’nya kau wee...” terlihat
fatma sedang memandangi sosok lelaki yang sedang bermain futsal di lapangan
sekolah. “mata keranjang to ki di’...” sapa
sahabatnya dengan nada ejekan dari belakang. “apa to kau Rahman..?” dengan jutek fatma menjawab sahabatnya.
Sahabatnya yang bernama Rachman itu kemudian memberikan segelas minuman dingin
yang ia baru beli di kantin. “ayo masuk
kelas..??” ajak Rahman seakan ingin mengalihkan perhatian fatma yang
tertuju pada seorang laki-laki yang sedari tadi ia pandangi. “isshh.. nanti pi.. lagian belum pa ki’ juga
masuk” fatma dengan bersikeras tak mau mengiyakan ajakan Rahman. Namun
beberapa menit kemudian akhirnya bel berbunyi menadakan waktu istirahat sudah
berakhir di lanjutkan dengan masuk ke kelas untuk menerima pelajaran
selanjutnya. Di dalam kelas, Rahman menjadi tidak fokus menerima pelajaran
karena harus mendengar curahan hati Fatma tentang lelaki yang bermain futsal
tadi dan ternyata lelaki yang sudah lama Fatma kagumi itu. Di lain sisi, Rahman
terlihat menyembunyikan kecemburuannya, karena ternyata Rahman juga menyimpan
rasa kagumnya kepada Fatma. Iya sudah lama tahu kalau sahabatnya itu menyukai
laki-laki lain dan justru bukan dirinya yang sudah lama bersamanya.
Sepulang dari
sekolah atau tepatnya ketika sore hari, Fatma dan Rahman biasanya bermain di
lapangan A. Makkasau. Lapangan yang bertempat di pusat kota Parepare. Disana
mereka biasanya bermain, berlari santai sambil menanti gelapnya malam menyapu
terangnya siang. Bercanda dan saling menjaili menjadi kesibukan selingan di
sore itu. Ramainya dan indahnya lapangan A. Makkasau memang cocok bagi para
kaula muda untuk memadu kasih. Alasan untuk berolah raga itu hanya menjadi
nomor kedua bagi para pengunjung lapangan itu. Rahman pun tak ketinggalan untuk
sesuatu yang romantis itu, sesekali ia mencoba merayu sahabatnya itu, walaupun
di anggap bercanda bagi Fatma. Rahman memang sudah lama menyukai Fatma tapi
melihat persahabatan yang sangat kuat diantara mereka berdua membuat Rahman
seolah enggan mengungkapkan perasaan lebihnya kepada Fatma, ia takut membuat
kondisi persahabatannya justru semakin terpuruk dan membuat Fatma justru
menjauh darinya.
Parepare Di Malam Hari
Hirup pikuk Kota
Parepare lebih terasa di malam hari, dan waktu itu tidak disia-siakan dua anak
muda ini untuk keluar menyusuri malam. Sore tadi Rahman mengajak Fatma untuk
jalan-jalan di malam harinya dan Fatma langsung mengiyakan ajakan sahabatnya
itu. Rahman dengan motor Vespa unik miliknya menjemput Fatma di rumahnya.
Di cermin besar
terlihat paras cantik dengan gincu merah maron di bibir, Fatma seolah seorang
Cinderella sedang merias wajah dan tubuhnya di dalam kamarnya setelah janjian
dengan rahman untuk keluar malam ini. “tok...
tok...” terdengar ketukan dari pintu kamarnya. “Fatma.... datang mi Rahman cepat mi turun nak....!” teriak Ibunya
dari luar. “Iyahh... sebentar mami” jawab
Fatma dengan teriakan juga. Fatma kemudian bergegas keluar dari kamarnya dan
segera menemui Rahman yang sudah sedari tadi menunggu dirinya. Di ruang tamu
sudah terlihat dan terdengar bincang-bincang canda tawa Rahman dan orang
tuanya. Rahman memang sudah dekat dengan kedua orang tua Fatma begitu pun
sebaliknya Fatma juga sudah di Anggap anak sendiri bagi Ayah Rahman.
Terkejut dan
sedikit heran terlukis di wajah Ayah, ibu, dan juga rahman setelah Fatma tiba
diruang tamu. “mau jalan-jalan atau ke
orang Kawin..?” ibunya dengan heran mempertanyakan perihal dandanan Fatma
yang berbeda dari biasanya. Setelah pamitan dari kedua orang tua Fatma, Rahman
langsung mengajak Fatma. Di perjalanan keluar dari rumah, Rahman terlihat
senyum-senyum heran. Ia masih bertanya-tanya dalam hati perihal dandanan Fatma
itu. “Tidak biasanya ia berdandan seperti
itu... apa lagi jalan-jalannya kali ini juga hanya menyusuri malam kota
parepare saja dan bukan untuk ke kondangan atau ke tempat yang sedikit lebih
formal” tanyanya dalam hati. Malam ini serasa berbeda bagi rahman, ia
memang sudah sering membawa fatma jalan-jalan tapi baru kali ini ia menyaksikan
riasan Fatma yang seolah akan mengadakan diner di sebuah restoran atau lebih
tepatnya kencan.
Vespa sudah
beraksi membawa tuannya dan orang yang di cintai tuannya. Di atas motor canda
dan tawa kembali menghiasi malam itu. “mau
ki’ kemana gah....?” tanya Rahman. “ishh...
kau ia, yang ngajak..?”. jawab fatma. Malam itu di habiskan Fatma dengan
jalan-jalan dan belanja di salah satu pasar malam yang terkenal di parepare
bahkan Sulawesi Selatan yaitu Pasar
Senggol. Mereka keliling hingga mereka berdua merasa lapar dan haus. Hingga
akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari pasar dan kemudian ke subuah caffe
di pinggir jalan untuk membayar rasa lapar dan hausnya. Canda dan tawa kembali
terlihat di caffe itu, selang beberapa menit canda dan tawa itu pun berhenti
ketika seorang pria datang menghapiri meja makan mereka. “permisi.... kita di bilang Fatma tohh..?” tanya pria itu kepada
Fatma. Fatma dengan penuh keheranan menjawab tanya pria itu dengan ucapan
terbata “i..ii.. iya... kita Andri
toh..?” sedikit malu dan canggung fatma langsung menebak nama dari pria
yang memang sudah Fatma kenal. Ya pria itu adalah Andri seseorang yang telah
lama di kagumi Fatma dan selalu ia pandangi ketika bermain di lapangan sekolah.
“bisa ka gabung...?” tanya andri
dengan niat duduk bersama Fatma dan Rahman. ”i..ii..iya
duduk ma ki’.. owh iya.. dari mana ki’ tau namaku” tanya Fatma dengan masih
sedikit canggung dan malu-malu. “kita iya
dari mana ki tau namaku..?´jawab andri dengan sebuah pertanyaan balik
membuat fatma hanya tertawa malu hingga tak berkata-kata lagi. Malam itu
kembali memperlihatkan canda tawa, namun canda tawa yang terlihat bukan lagi
dari Rahman dan Fatma melainkan dari Pria yang baru saja Fatma temui yaitu
Andri. Fatma tak terlihat canggung dan malu-malu lagi melainkan sangat
menikmati pembicaraannya dengan Andri seolah seseorang yang baru saja bertemu
dengan teman lama. Bahkan karena Asyiknya Fatma ngobrol dengan Andri, ia sampai
lupa dengan sahabatnya Rahman dan sudah sejak tadi berdiam diri.
Beberapa jam kemudian
Rahman dengan kekesalan yang tersembunyi memotong pembicaraan Fatma dan Andri
yang sedang asyik ngobrol. “Ayo mi Pulang
tengah malam mi..!” ajak rahman, meminta kepada fatma untuk segera pulang. “isshh... nanti pi, santai mko dehh... baru
ji juga jam berapa” jawab Fatma dan menolak ajakan Rahman. “Iya tapi na cari ki’ nanti bapa sama
ibumu..!” Rahman mencoba untuk terus memaksa Fatma untuk segera pulang.
Namun Fatma terus bersikeras tak mau pulang. “pulang mako duluan... andri pi yang antar ka’....” kekesalan Fatma
memuncak dan bahkan mengatakan Andrilah yang akan mengantarnya pulang walaupun
belum meminta kepada Andri. Akhirnya rahman dengan penuh kekesalan dan pastinya
dengan kecemburuan yang membakar lekas pergi dari hadapan Fatma dan Andri. Fatma
hanya melihatnya dengan terdiam walaupun sedikit rasa kecewa terhadap sikapnya
sendiri yang memperlakukan Rahman seperti itu. Namun bagi Fatma kesempatan
ngobrol dengan Andri juga adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh
di lewatkan.
Jam 12 malam
akhirnya Fatma pulang ke rumah dengan di antar oleh Andri. Terlihat keceriaan
dan senyum bahagia dari paras anak remaja yang sedang di mabuk cinta ini. Fatma
sampai di rumah, dan Andri juga lekas pergi dari depan rumahnya. Dengan rasa
was-was Fatma berjalan menuju pintu rumah dan segera membukanya dengan pelan.
Ia tahu bahwa akan di marahi oleh ayah ibunya karena lambat pulang kerumah.
Namun sepertinya orang di rumah sudah tidur dengan lampu rumah yang sudah padam
semua. Fatma membuka pintu rumah secara perlahan tanpa bunyi, setelah mengunci
pintu rumahnya Fatma berjalan menuju kamarnya, namun belum sempat ia masuk ke
kamar lampu sudah menyala secara tiba-tiba dan membuat fatma kaget. Ternyata
itu ayahnya yang sudah sedari tadi menunggu kepulangan Fatma. Fatma yang memang
tidak membawa Handphonenya ketika keluar bersama Rahman sore tadi membuat
ayahnya kesal dan membuat ia susah menghubungi Fatma. “dari mana ko... tengah malam begini, kenapa juga bukan Rahman yang
antar ko...!!!” dengan wajah merah akan kelakuan anaknya itu, Ayahnya
dengan keras bertanya kepada Fatma yang ternyata memang sudah tahu bahwa
anaknya akan lambat pulang dan akan di Antar oleh orang lain. Ternyata Rahman
setelah pulang dari caffe tempat ia makan dan Fatma, Rahman tidak langsung pulang
ke rumahnya ia mampir terlebih dahulu di rumah Fatma dan memberitahukan semua
yang terjadi kepada Ayah dan ibu Fatma. Fatma yang hanya tertunduk kesal tak
mampu menjawab pertanyaan dari Ayahnya. Ia kemudian langsung ke kamarnya
setelah mendapat amarah dari Ayahnya buah hasil dari kelakuannya malam itu.
Fatma tanpa
mengganti pakaiannya dan membersihkan wajahnya langsung membaringkan tubuhnya
di tempat tidur. Kemarahan ayah padanya seolah sirnah oleh suasana bahagia saat
bersama Andri di caffe tadi. Namun kekesalannya juga masih tetap membayangi
walau kekesalan itu tidak untuk Ayah tapi untuk Rahman. Ia kesal mengapa Rahman
harus melapor ke Ayahnya tentang keterlambatannya pulang karena bersama orang
lain. Fatma tahu bahwa Ayahnya tidak akan marah jika ia Lambat pulang dengan
ketentuan ia bersama Rahman, namun saat itu ia bersama dengan pria lain yang
Ayahnya belum kenal bahkan Fatma sendiri baru pertama kali bertegur sapa.
Jatuh Cinta dan Kecemburuan
Keesokan harinya
di sekolah, Fatma masih terlihat memancarkan aura bahagia atas apa yang di
alaminya semalam. Kebahagiaannya memuncak disaat ia bertemu kembali dengan
Andri di sekolah. Ia dan Andri semakin akrab saja dan semakin dekat saja. Pagi
itu di lalui Fatma dengan bahagia karena ia dan pria idamannya sedah semakin
dekat saja. Akhirnya bel pertanda pelajaran pertama di hari itu sudah berbunyi
memaksa Fatma harus mengakhiri perbincangannya bersama Andri. Fatma lalu
berbegegas menuju ke kelas. Di dalam kelas terlihat Rahman sedang bercanda tawa
dengan teman kelas lainnya, tiba-tiba Fatma datang menerobos dan meluakkan
kekesalannya terhadap Rahman atas apa yang di lakukan nya semalam sehingga
Fatma mendapat ocehan dari Ayahnya. “weee...
apa massu’mu gah...! kenapa pake acara lapor segala ..!!” tanya Fatma dengan
sedikit marah, Rahman hanya mengalihkan perhatian dan terdiam sejenak kemudian
ia berjalan ke tempat duduknya di ikuti Fatma yang masih menunggu jawaban atas
tanya yang di berikan. Dengan santai Rahman kemudian menjawab tanya kesal dari
Fatma. “semua yang ku lakukan semata-mata
karna bentuk perhatianku ji sama kau.. nda mau ka kalo kenapa-kenapa ki’...
karna kau sahabatku” jawaban Rahman yang santai dan penuh kesungguhan
membuat Fatma terdiam dan tak menghujatnya lagi dengan pertanyaan. Jawaban itu
juga kemudian membuat Fatma luluh hingga kemudian memaafkan Rahman. Ia sadar
bahwa ini bukan sepenuhnya salah Rahman, bahkan Rahman tak bersalah sedikit
pun, justru dirinya lah yang salah tak seharusnya ia kesal dan marah kepada
Rahman.
Hubungan mereka kembali
seperti semula, yaitu persahabatan antara Fatma dan Rahman. Namun kisah
persahabatannya kali ini sudah terasa berbeda bagi Rahman, bagaimana tidak,
hari-harinya dengan Fatma selalu di isi oleh cerita tentang Andri yang di
tuturkan oleh Fatma. Fatma yang tak menyadari soal perasaan lebih dari Rahman
dan merasa bahwa Rahman adalah sahabat sekaligus pendengar yang baik baginya
membuat ia terus-terusan bercerita soal cintanya kepada Andri.
Tepat jam 2 siang
menjelang sore, didalam kelas terlihat siswa-siswi bergegas merapikan kembali
buku-bukunya kedalam tas dan kemudian pulang kerumah masing-masing. Fatma dan
Rahman kemudian keluar dari kelas dan segera pulang. Karena hari itu Ayah Fatma
tidak bisa menjemputnya di karenakan ada urusan kantor yang harus di selesaikan
akhirnya Fatma di antar pulang oleh Rahman.
Di parkiran
sekolah Rahman kemudian mengambil motornya dan kemudian memberikan helm mini
kepada Fatma untuk di gunakan. Tiba-tiba seseorang dari belakang menghampiri
mereka berdua. Dia adalah Andri yang kemudian menegur Fatma yang ternyata juga
berniat menjemput Fatma. “heyy... Ayo
saya antar ki’ pulang” tegur Andri. “bikin
kaget ki’ saja... masalahnya sama ka Rahman pulang” jawab Fatma dengan
kaget. “ohh... saya kira sendiri ki’...” Andri
dengan rasa kecewanya kemudian lekas menarik diri dari hadapan Fatma dan
Rahman. Belum jauh Andri melangkah dari Hadapannya, Fatma kembali menegur dan
kemudian mengiyakan ajakan Andri, membuat Rahman tercengang dan bertanya kepada
Fatma. “wee.. namarahi ki’ lagii bapak
kalo sama ki orang lain pulang!” tanya Rahman mencoba mengingatkan Fatma. “please.. dan minta maaf ka’... biarkan mi
dlu andri yang antar ka’ na... lagi pula tidak na tau ji itu bapak kalo tidak
mulapor i..??” fatma dengan memohon
kepada Rahman agar di ijinkan pulang di antar oleh Andri dan tidak
melaporkannya kepada Ayahnya. Rahman yang tak mau persahabatannya kembali
runyam, ia dengan rasa kecewa dan cemburu terpaksa mengiyakan apa yang di pinta
oleh sahabatnya itu. Bagi Fatma ini juga adalah saat-saat yang di nantikannya,
baginya ini adalah langkah awal untuk lebih akrab dan dekat dengan Andri yang sudah
lama ia kagumi. Di lain sisi, Rahman hanya terpaku melihat Fatma di antar oleh
orang lain dan bukan dirinya, ia terpaksa merelakan itu demi persahabatan
pikirnya.
“trrriing... trrriing...” deringan HP milik Rahman berbunyi tepat di sampingnya. Rahman yang
sedang membersihkan motor vespa miliknya berberes dan kemudian mengangkat
telphone yang ternyata telphone dari Fatma.
Rahman: Haloo... Fatma..
Fatma: Iyah Rahman.. btw lagi Apa ki’...?
Rahman: lagi bersihkan motor ka’... kenapa ki’ nelphone?
Fatma: mau ki’ pergi jalan-jalan gah?
Rahman:dmn?
Fatma: di Lapangan A. Makkasau..!
Rahman: owh.. iya tunggu ma... saya jemput ki’...
Fatma: jangan mi.. duluan ma ki’ kesana.... tunggu ka disana nah...
Rahman: owh.. iyah palee... cepat ki’..
Fatma: Iyah Rahman.. btw lagi Apa ki’...?
Rahman: lagi bersihkan motor ka’... kenapa ki’ nelphone?
Fatma: mau ki’ pergi jalan-jalan gah?
Rahman:dmn?
Fatma: di Lapangan A. Makkasau..!
Rahman: owh.. iya tunggu ma... saya jemput ki’...
Fatma: jangan mi.. duluan ma ki’ kesana.... tunggu ka disana nah...
Rahman: owh.. iyah palee... cepat ki’..
Rahman dengan
wajah kembali ceria segera ke kamar mengganti pakaiaannya dan kemudian
berangkat ke Lapangan A. Makkasau seperti janjinya bersama Fatma. Walau pun
sebahagia itu, namun di perjalanan ia bertanya-tanya mengapa Fatma tidak mau di
jemput olehnya, pikirnya selalu positif terhadap Fatma, mungkin Fatma akan
menggunakan sepeda ke lapangan sehingga enggan untuk di jemput.
Rahman tiba
terlebih dahulu di Lapangan dan menunggu Fatma yang belum juga muncul. Selang
beberapa menit, Rahman yang duduk sendiri di bawa pohon beringin pinggir
lapangan terus menunggu sahabatnya datang. Tiba-tiba seseorang mengagetkannya
dengan menepuk pundaknya dari belakang. Ya itu Fatma, awalnya senang karena
Fatma telah datang, namun kemudian hancur rasa itu ketika Rahman tahu ternyata
Fatma datang bersama orang lain yaitu Andri, dan perihal mengapa Fatma tidak
mau ia jemput ternyata semua karena Andri yang menjemputnya.
Romansa yang ia
selalu lakukan ketika berdua dengan Fatma tak bisa lagi Rahman lakukan. Romansa
itu kini di rebut oleh Andri. Rahman sadar akan cinta Fatma kepada Andri
membuat ia pasrah menerima itu dan membiarkannya berjalan sesuai dengan
kehendak sang dewa cinta.
Kecemburuannya
tak hanya ia rasakan di lapangan kemarin, hari ini dan mungkin seterusnya akan
ia rasakan. Di sekolah kebersamaannya seperti tak nampak lagi. Hanya sekejap
saja ia bersama Fatma selebihnya Fatma lebih sering berdua bersama Andri. Dan
kekecewaan itu pun memuncak sejak ia tahu bahwa Fatma dan Andri telah resmi
pacaran.
Dengan penuh
keceriaan bahagia, Fatma berlari menuju ke dalam kelas, “Rahman...!!! pasti nda percaya ko...” Fatma dengan senyum bahagia
terpancar dari wajahnya seolah ingin memberi tahukan sebuah kabar yang baik
untuk Rahman. “kenapa ki’...??” tanya
Rahman dengan keheranan. “wee... akhirnya
pacaran ma’ sama Andri, tadi malam jadian ka...” jawab Fatma dengan
bahagianya. Kabar itu ternyata memang kabar gembira, ya benar gembira bagi
Fatma tapi tidak bagi Rahman yang cintanya telah di miliki oleh orang lain.
Hari-hari Fatma
di sekolah kini semakin terlihat ceria saja, bagaimana tidak, hari-hari itu di
lalui bersama seseorang yang sudah lama ia kagumi dan akhirnya sekarang telah
menjalin hubungan serius bersama. Di lain sisi, Rahman hanya bisa pasrah
menerima semua itu, ia lebih sering menyendiri. Bukan karena keinginannya, tapi
karena tak ada lagi seseorang yang menemaninya. Seseorang yang ia cintai kini
bersama orang lain.
Wilda
Penghapus Kecemburuan dan Pencipta Kecemburuan
Libur semester
ganjil sudah di mulai, rahman yang biasanya menghabisi waktu liburnya bersama
Fatma, kini harus mengubur dalam-dalam keinginannya itu. Lama sudah hari-hari
Rahman tidak di lalui bersama Fatma.
Semua itu karena Fatma yang tak punya waktu lagi untuk menemuinya.
Suatu hari ketika
Rahman ingin keluar dari rumahnya untuk berjalan-jalan, tiba-tiba telphonenya
berdering. Dan itu adalah panggilan dari Fatma. Bahagia tak lagi terpancar dari
wajahnya, walaupun sudah lama ini Fatma tidak pernah memberi kabar setelah
ujian semester ganjil kemarin. Dan kini tiba-tiba menelphone.
Rahman: Haloo...
Fatma: Halo.. Rahman..
Rahman: Masih mu ingat ka’ pale..??
Fatma: isshhh... kenapa bilang begitu..?
Rahman: hehehe.. tidak,.. main ja.. owh iya ada apa..??
Fatma: begini,... besok itu hari ulang tahunnya Andri, jadi mau ka kasih kejutan buat dia... kenapa saya telphone ki’.. karena mau ka minta tolong bantu ka untuk persiapkan kejutannya...
Rahman: kenapa minta tolong sama saya ki’..??
Fatma: issshh... kan kau sahabat ku...
Rahman: owh.. jadi itu pi mu anggap ka lagi sahabatmu kalo ada mau mu... (candanya)
Fatma: kenapa bilang begitu ki’... yahh jangan mi pale kalo nda mau ki’.. (sedikit kesal)
Rahman: hehehe.. main ja’... sebenarnya mau ka tapi...
Fatma: tapi apa..???
Rahman: besok mau ka juga berangkat ke polman, mau ka kerumahnya nenek ku masuk rumah sakit soalnya...
Fatma: owhh... iyahh pale nda papa... salam ku sama nenek mu (dengan sedikit kecewa)
Rahman: iyahh... maaf nahh...
Fatma: iyaahh nda papa jii...
Fatma: Halo.. Rahman..
Rahman: Masih mu ingat ka’ pale..??
Fatma: isshhh... kenapa bilang begitu..?
Rahman: hehehe.. tidak,.. main ja.. owh iya ada apa..??
Fatma: begini,... besok itu hari ulang tahunnya Andri, jadi mau ka kasih kejutan buat dia... kenapa saya telphone ki’.. karena mau ka minta tolong bantu ka untuk persiapkan kejutannya...
Rahman: kenapa minta tolong sama saya ki’..??
Fatma: issshh... kan kau sahabat ku...
Rahman: owh.. jadi itu pi mu anggap ka lagi sahabatmu kalo ada mau mu... (candanya)
Fatma: kenapa bilang begitu ki’... yahh jangan mi pale kalo nda mau ki’.. (sedikit kesal)
Rahman: hehehe.. main ja’... sebenarnya mau ka tapi...
Fatma: tapi apa..???
Rahman: besok mau ka juga berangkat ke polman, mau ka kerumahnya nenek ku masuk rumah sakit soalnya...
Fatma: owhh... iyahh pale nda papa... salam ku sama nenek mu (dengan sedikit kecewa)
Rahman: iyahh... maaf nahh...
Fatma: iyaahh nda papa jii...
Fatma sangat kecewa
karena tak ada yang bisa membantunya untuk mempersiapkan kejutannya kepada
Andri yang akan berulang tahun. Rahman pun begitu, ia merasa bersalah karena
tidak mampu membantu Fatma walaupun semua itu hanya untuk laki-laki lain yaitu
Andri.
Libur panjang itu
di lalui dengan sendiri-sendiri anatara Fatma dan Rahman. Fatma dengan
kemesrahannya bersama Andri dan Rahman yang lebih sibuk bersama keluarganya di
Polman.
Dua minggu sudah
berlalu, libur panjang pun sudah berakhir. waktunya untuk kembali ke sekolah melanjutkan
profesi sebagai pelajar. Di sekolah hari-hari Rahman tak lagi seperti dahulu,
kini ia hanya mampu menyebunyikan perasaan cintanya dari jauh kepada Fatma.
Sudah tak banyak Waktu untuk berdua bersama Fatma.
Disemester kali
ini anak kelas tiga akan semakin disibukkan. Ketegangan juga semakin hari
semakin memacu. Masa-masa sekolah akan segera berakhir dengan hari-hari yang
padat akan keseriusan belajar untuk kesiapan menghadapi Ujian Nasional yang
sebentar lagi akan mereka hadapi. Rahman kini tak lagi terpuruk dalam
kesedihannya oleh karena cinta yang tak sampai, ia kini lebih serius belajar
untuk menghadapi UN yang sudah di depan mata. Lain halnya Rahman, lain pula
dengan Fatma dan Andri. Fatma tak terlihat menyibukkan diri dengan giat
belajar, Fatma lebih sering menghabiskan waktu dengan beradu cumbu bersama
Andri. Ia seakan tak memikirkan dan mempersiapkan diri dengan UN yang akan di
hadapinya.
Hari-hari berlalu
dengan penuh kemesrahan, Fatma dan Rahman tak pernah lagi terlihat bersama. Di
dalam kelas pun ia tak pernah lagi mengobrol bersama bahkan untuk saling
menyapa pun tak pernah lagi. Sebenarnya Fatma pernah mencoba untuk mengobrol
dengan Rahman, tapi Rahman terlihat enggan dengan alasan dia mau Fokus untuk
belajar, dan bahkan kini sudah tidak sebangku lagi di dalam kelas. Mereka
menjalani kehidupannya masing-masing, Rahman sibuk dengan giat belajar dan
Fatma masih tetap pada kemesrahannya bersama Andri.
Di sore hari
Rahman berangkat ke sekolah untuk melakukan belajar bersama teman-teman yang lain.
Saat menjawab soal-soal latihan UN, Rahman mendapat Telphone dari Ayah Fatma.
Ayah Fatma: Haloo..... Assalamu Alaikum..
Rahman: Iyah Waalaikum Salam Omm....
Ayah Fatma: Lagi Apa ki’ Nak..?
Rahman: Di sekolah Ka’ sekarang Omm,... latihan UN..
Ayah Fatma: owh iyahh... kenapa ndag pernah ma ki’ sama Fatma..?
Rahman: Hehehee.. ndag ada ji Omm,... sekarang sibuk ka’ juga jadi jarang ma main ke rumah....
Ayah Fatma: Owh... Ada ji Fatma disitu toch..??
Rahman: Tidak ada Omm...
Ayah Fatma: Owh.. saya kira disitu juga, soalnya tadi pas mau keluar, bilang kalo mau ke sekolah belajar.
Rahman: Owh... tapi ndag ada ji Omm disini....
Ayah Fatma: kemana pale itu anak-nak... begini pale nak, tolong cari dulu Fatma, dan kalo bisa mulai sekarang belajar sama-sama teruski sama Fatma nah.. soalnya ndag pernah ji kuliat belajar kalo di rumah padahal mau mi UN. Bisa ji toh nak..?
Rahman: owh.. i..ii..iya Om... saya usahakan pi...
Ayah Fatma: iyahh... terima kasih pale nak aa... Ass. Kum...
Rahman: Iyahh Om.. Wal. Salam...
Rahman: Iyah Waalaikum Salam Omm....
Ayah Fatma: Lagi Apa ki’ Nak..?
Rahman: Di sekolah Ka’ sekarang Omm,... latihan UN..
Ayah Fatma: owh iyahh... kenapa ndag pernah ma ki’ sama Fatma..?
Rahman: Hehehee.. ndag ada ji Omm,... sekarang sibuk ka’ juga jadi jarang ma main ke rumah....
Ayah Fatma: Owh... Ada ji Fatma disitu toch..??
Rahman: Tidak ada Omm...
Ayah Fatma: Owh.. saya kira disitu juga, soalnya tadi pas mau keluar, bilang kalo mau ke sekolah belajar.
Rahman: Owh... tapi ndag ada ji Omm disini....
Ayah Fatma: kemana pale itu anak-nak... begini pale nak, tolong cari dulu Fatma, dan kalo bisa mulai sekarang belajar sama-sama teruski sama Fatma nah.. soalnya ndag pernah ji kuliat belajar kalo di rumah padahal mau mi UN. Bisa ji toh nak..?
Rahman: owh.. i..ii..iya Om... saya usahakan pi...
Ayah Fatma: iyahh... terima kasih pale nak aa... Ass. Kum...
Rahman: Iyahh Om.. Wal. Salam...
Rahman tak bisa
menolak permintaan dari Ayah Fatma yang memintanya untuk kedepannya terus
bersama Fatma dan belajar bersama Fatma dalam menghadapi UN yang sudah di depan
mata. Rahman sadar kalau Fatma sudah tidak mengharapkan kehadiran dirinya lagi
di kehidupan Fatma. Tapi apa boleh buat, permintaan ayah Fatma seakan membuat
lidahnya kaku hanya untuk sekedar berucap “tidak” untuk menolak permintaan dari
Ayah Fatma. Karena permintaan Ayah Fatma itu, Rahman yang sedang mengerjakan
Soal latihan UN, sudah tidak fokus lagi untuk menyelesaikannya, membuatnya
beranjak pergi meninggalkan teman-teman yang lain dan pulang kerumah untuk
menenangkan pikirannya.
Di keesokan
harinya, Rahman mencoba berbicara dengan Fatma tentang apa yang kemarin di
minta oleh Ayah Fatma kepadanya. Rahman terlihat ragu dan malu saat ingin
menyapa Fatma, begitupun sebaliknya Fatma. Mereka mengobrol dengan penuh
kecanggungan, seakan seperti orang yang baru saling mengenal satu sama lain.
“fatma... “ tegur
Rahman kepada Fatma yang sedang membaca Novel di pojok belakang kelas. “hei.. kenapa ki’...??” sahut Fatma juga
dengan ragu. “kemarin na telphone ka’
bapak ta... terus na minta ka’ untuk belajar sama-sama dengan kita’....” Rahman
memulai pembicaraan dengan topik utamanya. “teruss....”
jawab Fatma dengan Tanya. “yaahhh...
bagaimana menurut taa..” jawab Rahman dengan tanya juga. “iyahh sudah ja juga na tanya bapak..
yahhh.. kalo memang tidak keberatan ja ki’ kalo sama ki’ belajar, mau ka ia..
tapi terserah kita ji... kalo memang mau ki, ya mau ja ki” jawab Fatma
dengan sedikit canggung. “owh.. berarti
kita mau ji toch... kalo gitu mulai besok belajar di perpus daerah ki” balas
Rahman dan langsung mengajak Fatma untuk memulai belajar bersama. “hehehe... iyahh kita jemput ka’ pale besok
sore...” Fatma langsung meng-iya kan pinta dari Rahman. Semoga ini bisa
menjadi awal untuk kembali mengharmoniskan persahabatannya, pikir Fatma.
Ke esokan
harinya, Rahman datang menjemput Fatma dirumahnya untuk segera ke Perpustakaan
Daerah seperti janjinya bersama Fatma kemarin. Fatma dengan tanpa canggung lagi
keluar dari rumah menghampiri Rahman yang sudah tiba, dan langsung menuju ke
perpustakaan daerah berdua untuk belajar bersama.
Di perpustakaan,
mereka memulai dengan mencari buku untuk kemudian mereka baca dan pelajari. Saat
sedang mencari buku, tiba-tiba suara tegur sapa dari belakang terdengar. “Rahman...” seorang perempuan menyapa
Rahman yang sedang mencari buku bersama Fatma. Rahman dan Fatma kemudian
menoleh ke belakang, “Awwee....kau gah
bondeng..??” balas Rahman yang terlihat tak menyangka akan bertemu dengan
perempuan yang ia panggil “bondeng” itu. Perempuan itu bernama Wilda yang
ternyata adalah teman Rahman semasa SD. “isshhh....
ndag bondeng ma... ternyata masih ku ingat ka palee.... “ canda Wilda
kepada Rahman. “jelas mi... kau ia,
bisanya mi itu mu tau ka’ padahal dari belakang” balas Rahman dengan raut
wajah yang masih tak menyangka bisa bertemu dengan Fatma yang sudah sejak lima
tahun terakhir tak pernah ia temui. Mereka kemudian melanjutkan perbincangannya
diluar halaman perpustakaan. Dengan saling menanyakan kabar dan perihal
keberadaann Wilda di Parepare yang sejak tamat SD pindah ke Makassar
melanjutkan sekolahnya. Dilain sisi, Fatma hanya terdiam tanpa kata seuntaian
pun. “owh iya... pacar ta gahh itu...?” tanya
canda Wilda kepada Rahman, menanyakan soal Fatma yang bersamanya. “owhh... ini, ini namanya Fatma teman
sekolahku... kebetulan disini lagi caribuku ka’ buat tambahan belajar untuk UN
nanti” jawab Rahman. Mereka kembali mengobrol, karena serunya mereka
mengobrol, Rahman seakan lupa dengan Fatma yang ada di sampingnya bahkan lupa
dengan niat awalnya datang ke perpustakaan daerah yaitu untuk belajar bersama
Fatma. Ia hanya saling memperkenalkan dua wanita yang kini bersamanya. Fatma
terlihat cemberut dan masih terdiam ditempatnya, ia seakan tak menerima
kehadiran Wilda yang baginya merusak rencana belajar bersamanya dengan Rahman.
Fatma pun heran akan apa yang kini ia rasakan, Fatma merasa kesal dan cemburu
melihat Rahman dan Wilda yang ngobrol dengan semakin asik saja. Ia untuk
pertama kalinya merasakan hal aneh itu di dalam hati. Bagi Fatma rasa itu
adalah rasa cemburu akan kehadiran wilda yang sangat tiba-tiba dan tak terduga.
Tapi mungkin dilain sudut pandang, yaitu di sisi Rahman, apakah Fatma pernah
merasakan kecemburuan Rahman saat menerima Andri di tengah-tengah indahnya
persahabatan mereka. Mungkin itulah yang tidak di sadari oleh Fatma selama ini,
yang kini sudah dilanda cemburu akan kehadiran Wilda, seorang teman lama yang
datang kembali disisi Rahman.
Di sela
perbincangan seru antara Rahman dan wilda, Fatma kemudian memotong pembicaraan
itu. “tidak dua orang ki’ kepeng
keliuss... ada ja juga disini” potong Fatma dengan kesal. “Owh iyahh... tapi tidak di lupa ji kapang...hehehee...
bagaimana kalo lanjut ngobrol di caffe ma ki saja...” jawab Rahman dengan
canda dan berniat melanjutkan perbincangannya di sebuah caffe. “iyahh cocok mi, kebetulan haus ka’ juga” jawab
Wilda dengan riang. “bukannya nda mau
ka’...tapi ada mau saya kerja juga dirumah.... lagi pula nda mau ka’ juga
ganggu acara reuni ta berdua” sahut Fatma yang semakin kesal saja. “isshhh... ayo mi je’... “ jawab Rahman
dan tidak mengiyakan keinginan Fatma untuk pulang terlebih dahulu. “minta maaf ka’... lain kali pi belajar ki’
lagi... atau nanti malam pi saya telphone ki’...” balas Fatma dan
bersikeras ingin segera pulang yang sebenarnya di bawa oleh rasa kesalnya
kepada Rahman dan Wilda. “iya pale,...
tapi telphon ka nanti malam nahh...!!” balas Rahman dengan pinta untuk
ditelphone Fatma nanti malam. “iyaahh...”
singkat Fatma. “maaf nahh... saya
pinjam dulu Rahman” potong Wilda dengan canda. “hehehe... iya” balas Fatma dengan kekesalan yang semakin memuncak.
Kemudian Fatma membereskan buku-bukunya kedalam tas dan kemudian beranjak pergi
meninggalkan Rahman dan Wilda tanpa pamit sepatah kata pun. Rahman hanya
memandangi sahabatnya itu pulang seorang diri dari tempatnya mengobrol dengan
Wilda. Selanjutnya Rahman dan Wilda juga beranjak dan lekas pergi dari halaman
Perpustakaan dan mencari caffe terdekat untuk melanjutkan ngobrolnya disana.
Rahman dan Wilda
semakin asik saja dengan perbincangannya, ternyata Wilda datang ke Parepare
untuk menjenguk neneknya yang sedang sakit. Walaupun begitu, Wilda juga
mengakui jikalau dirinya juga sebenarnya awalnya berniat menemui Rahman ketika
sudah tiba di Parepare. Namun ia tak menyangka akhirnya bisa bertemu secara
tiba-tiba di Perpustakaan Daerah saat mereka sama-sama sedang mencari buku.
Dilain sisi,
Fatma tiba dirumahnya dengan raut wajah yang masih sama, yaitu kesal dan
cemburu. didalam rumah terlihat ayahnya sedang menonton televisi. “kenapa cepat sekali pulang,... selesai mi
gah belajarnya..?” tanya Ayahnya, menanyakan perihal cepatnya Fatma pulang
yang Ayahnya ketahui ia sedang belajar bersama Rahman di Perpustakaan Daerah. “selesai mi... “ singkat Fatma yang
masih saja kesal. Ayahnya hanya terdiam dan melihat putrinya itu berlalu menuju
kamarnya.
Fatma terlihat
semakin kesal saja. Ia melemparkan tasnya ke atas ranjangnya dan kemudian
menghadap cermin dengan kesal dan memaki-maki banyangannya di cermin, yang
sebenarnya sedang memaki-maki wilda, tak luput juga Rahman, yang bagi Fatma,
Rahman telah melupakan janjinya untuk belajar bersama hanya karena bertemu
dengan teman lamanya dan lebih memilih untuk mengobrol dengan teman lamanya
itu.
Dimalam hari,
Fatma mencoba menghubungi Rahman, seperti pinta Rahman sore tadi. Namun
bukannya jawaban telphone yang diterimanya, justru nomor telphone Rahman susah
untuk di hubungi. Fatma semakin kesal saja malam itu, bahkan ia menduga-duga
perihal nomor Rahman yang tidak Aktif. Pikirnya, mungkin Rahman sedang bersama
Wilda dan tak mau di ganggu oleh orang lain sehingga ia menon-aktifkan
Handphonenya. Pikiran negatifnya dan kekesalannya terhadap Rahman semakin
memuncak, dan kembali memaki-maki Rahman dan berbicara dengan Handphone yang
ditangannya.
Ternyata memang
benar dugaan Fatma perihal nomor Rahman yang susah dihubungi. Fatma berpikir
bahwa nomor Rahman susah dihubungi karena Rahman sedang bersama Wilda dan tidak
mau diganggu. Ya memang benar, Rahman dan Wilda kini sedang menikmati kopi
hangat disebuah Caffe dipinggiran Pasar Senggol. Rahman dan Wilda seolah reuni
semenjak beberapa tahun kemarin tidak pernah bertemu dengan Wilda. Gemerlapnya
malam Kota Parepare turut menghiasi pertemuan mereka. Dan dilain sisi Fatma
terus saja diselimuti kekesalan dikamarnya.
Malam berlalu
sekejap saja, tak mampu dibendung kekesalan dan dugaan-dugaan negatif, Fatma
memilih tidur saja untuk menghilangkan dan menenangkan pikirannya itu. Sedang
Rahman dan Wilda masih saja di Caffe dan belum berpikir untuk segera pulang.
Wilda terlihat sangat menikmati kedekatannya kembali bersama Rahman, Wilda
sadar akan rasa sukanya terhadap Rahman yang sudah ada semenjak cinta monyet
masa SD dulu, Rahman pun tau hal itu. Hingga tiba dimana situasi yang membuat
Rahman seolah dilema, disaat Wilda menuturkan persaannya yang sebenarnya.
Sebuah perasaan sayang yang ia pendam sejak masa kecil dulu. Wilda tiba-tiba
saja mengatakan itu, membuat Rahman sulit untuk menjawabnya. Rahman sadar akan
cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan Fatma. Dilain sisi Wilda juga
menyukai Rahman yang sebaliknya Rahman tak mempunyai perasaan spesial sama
sekali terhadap Wilda. Malam itu sunyi seketika setelah Wilda mengungkapkan apa
yang dirasakan Wilda terhadap Rahman. Rahman tahu itu akan sangat menyakiti
hati Wilda jika dia tahu jikalau Rahman hanya mencintai satu gadis saja yaitu
Fatma walaupun tak terbalas sekalipun. Ia tahu bahwa hal serupa yang Rahman
rasakan akan dirasakan juga Wilda jika ia menolak Wilda yang berkeinginan
menjadi kekasih Rahman.
Pikiran yang tak
mampu lagi mengotak-atik perasaan itu, akhirnya Rahman memilih untuk tidak
menjawab terlebih dahulu apa yang di utarakan Wilda terhadapnya. Rahman
kemudian mengajak Wilda untuk pulang, mengingat malam juga sudah mulai menelan
mereka berdua. “Minta maaf ka Wilda, belum pa bisa jawab sekarang. Sebaiknya
pulang ma ki dulu, dicari ki juga nanti” jelas Rahman kepada Wilda. “iya
pale ...” Singkat Wilda dengan senyumnya. Akhirnya Rahman mengantar Wilda
pulang ke rumah neneknya yang tak jauh dari tempatnya kini duduk berdua.
Diperjalanan pulang mereka hanya berdiam tak berucap sama sekali. Setelah
mengantar Wilda pulang kerumah, Rahman pun juga meneruskan perjalanannya untuk
pulang kerumahnya dan berpikir kembali tentang apa yang diungkapkan Wilda malam
tadi. Sesampai di Rumah ia langsung masuk kekamarnya dan mengambil HP nya yang
sedari tadi ia tinggalkan. Setelah mengaktifkan HP nya, puluhan SMS Fatma
menyerbu kotak masuk di pesannya. Fatma kecewa Rahman tak menepati janjinya
untuk belajar bersama siang tadi dan tak mengaktifkan HP nya kemudian menelphon
Fatma. Namun semua itu tidak kemudian menjadi topik utama dalam pikiran Rahman,
tapi tetap pada jawaban apa yang kemudian akan di berikan Rahman kepada wilda.
Tak pikir panjang Rahman kemudian menelphone seseorang yang ternyata sedang menelphone
Wilda untuk memberitahukan apa yang menjadi jawabannya dari tanya yang di
berikan Wilda malam tadi di caffe.
Rahman: halo...
Wilda: iya Rahman...
Rahman: lagi apa ki sekarang..?
Wilda: mau ma tidur ini
Rahman: owh.... oh iya.. soal yang tadi, serius betul ki gah..?
Wilda: iya.. tidak papa ji kalau memang tidak bisa ki..
Rahman: mau ja...
Wilda: apa...???
Rahman: iyahh... mau ja jadi pacar ta... gimana..??
Wilda: hehehe.. serius betul ki gahh....
Rahman: iyahh... serius ka..!!
Wilda: hmmm... terima kasih pale nahh...
Rahman: ii,.. iiya... tidur ma ki pale dulu.. besok pi ketemu ki nahh... saya jemput pa ki...
Wilda: iyahh...!??
Wilda: iya Rahman...
Rahman: lagi apa ki sekarang..?
Wilda: mau ma tidur ini
Rahman: owh.... oh iya.. soal yang tadi, serius betul ki gah..?
Wilda: iya.. tidak papa ji kalau memang tidak bisa ki..
Rahman: mau ja...
Wilda: apa...???
Rahman: iyahh... mau ja jadi pacar ta... gimana..??
Wilda: hehehe.. serius betul ki gahh....
Rahman: iyahh... serius ka..!!
Wilda: hmmm... terima kasih pale nahh...
Rahman: ii,.. iiya... tidur ma ki pale dulu.. besok pi ketemu ki nahh... saya jemput pa ki...
Wilda: iyahh...!??
Rahman dengan
pilihannya lebih untuk mengiyakan apa yang di uatarakan Wilda malam tadi. Ia
memilih untuk kemudian menjalin kasih dengan Wilda dan mencoba untuk menghapus
perasaannya terhadap Fatma yang memang tak terbalas sama sekali.
Cinta Mulai Tumbuh
Hari minggu
adalah hari yang begitu membosankan akhir-akhir ini bagi Fatma. Ia mulai bosan
jalan dengan Andri, nampaknya kejenuhan itu juga karena rasa yang tak terbaca
sudah mulai terasa dihati Fatma.
Tepat jam 8 pagi,
Fatma yang sudah melakukan olah raga pagi dan selanjutnya membersihkan tubuhnya
terlihat bugar dan makin cantik saja. Kemudian ia menelphone Rahman dan berniat
untuk mengajaknya jalan-jalan dihari minggu cerah ini. Fatma kemudian langsung
menelphone Rahman, yang ternyata Rahman sedang berada di Rumah nenek Wilda.
Begitu pun dengan Fatma. Rahman ternyata juga berniat untuk keluar jalan-jalan
bersama dengan Wilda. Dan juga mengingat Wilda juga akan segera kembali ke
Makassar setelah beberapa hari ini berada di Parepare, dan memilih untuk absen
disekolah demi menjenguk nenek tercinta.
Fatma tak
basa-basi lagi, ia langsung mengajak Rahman untuk keluar jalan-jalan
bersamanya. Tapi sayangnya Rahman tak bisa mengiyakan karena sudah terlebih
dahulu membuat janji dengan Wilda, lagi pula Wilda sudah resmi jadi pacarnya.
Yang Fatma belum tahu hal itu.
Mendengar Fatma
yang sedikit kecewa setelah meminta dirinya untuk menemani Fatma
berjalan-jalan, namun tak ia kabulkan. Akhirnya Rahman yang juga tak bisa
membohongi perasaannya bahwa masih sangat menyayangi Fatma, ia kemudian
memberitahukan kepada Fatma bahwa dirinya sedang bersama Wilda dan akan keluar
juga. Rahman pun mengajak Fatma untuk ikut dan jalan-jalan bertiga bersama
dirinya dan Fatma.
Fatma yang
semakin kecewa dan kesal, langsung menutup telphone tanpa pamit sepatah kata
pun. Dan selang beberapa menit, Fatma kembali menelphone dan meminta Rahman
untuk menjempunya juga. Ternyata Fatma yang sedari tadi memendam keksalan dan
kecewa terhadap Rahman, hanyalah bentuk kecemburuan Fatma yang belum ia sadari.
Ia kemudian mengiyakan pinta Rahman yang mengajaknya untuk berjalan bertiga.
Hari itu adalah
hari terakhir Wilda bersama Rahman, selanjutnya ia harus kembali ke Makasaar
untuk memfokuskan dirinya juga dalam proses belajar menghadapi UN kedepannya.
Mereka bertiga akhirnya memilih untuk berjalan-jalan di sebuah tempat Wisata
yang terletak di Kab. Sidrap SulSel. Mereka kemudian berangkat menggunakan
Mobil ayah Rahman, dari saat dijemput hingga di perjalanan, Fatma masih kesal
saja. Kemesrahan Fatma dan Andri yang membuat Rahman begitu sakit hati kini
dibalas dengan kemesrahan yang diperlihatkan oleh Wilda yang disetiap
perjalanannya membuat wajah Fatma seakan begitu marah dan kesal. Sesampainya di
tempat wisata mereka bertiga kemudian berjalan-jalan dilokasi wisata tersebut.
Rahman yang bersajalan diantara dua wanita yang sama-sama ia pedulikan. Tanpa
malu dan ragu Wilda dengan sigap menggandeng lengan Rahman yang berada
disampingnya. Rahman yang terlihat canggung tak mampu membalas kemesrahan yang
ditunjukkan Wilda kepadanya. Ia tak sanggup mengingat cinta sejatinya juga
berada disampingnya, yang harapannya hanya ingin menggandeng peremuan itu.
Rahman sadar akan apa yang di rasakannya merupakan sebuah kesalahan. Ia
bergandeng tangan dengan Wilda namun pikirannya hanya bayang-bayang Fatma yang
selalu mengisi, membuatnya kemudian pasrah dan menyerahkannya kepada sang waktu
untuk berjalan bagaimanapun adanya.
Fatma semakin
kesal saja dengan perbuatan Rahman dan Wilda, membuatnya bertanya-tanya ada
hubungan apa sebenarnya antara mereka berdua. Belum habis apa yang dipikirkan
Fatma, Wilda kemudian semakin membuat Fatma terpuruk dalam kecemburuannya. “heyy...
Fatma..” tegur Wilda. “iya kenapa...?!!” jawab Fatma dengan sedikit
jutek dan kesal. “sudah ma ki gah na tanya Rahman kalo tadi malam jadian
ka...???” jelas Wilda yang seolah ingin memanas-manasi Fatma.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar