Aku Mencintaimu Suamiku - Ngemper

Aku Mencintaimu Suamiku

Share This

Aku Mencintaimu Suamiku 
“Ketika Cinta dan Penyesalan Terasa Di Ujung Waktu”



Oleh: Abdoel Rachman/Ame’


DAFTAR ISI
Air Mata Di Pemakaman Tua
Suamiku Hidup Dalam Buku Dan Film
Kembali Ke “19 Tahun Yang Lalu”
Parepare di Malam Hari
Jatuh Cinta Dan Kecemburuan
Wilda Penghapus Kecemburuan dan Pencipta Kecemburuan
Cinta Mulai Tumbuh




Air Mata Di Pemakaman Tua
16 Maret 2015
Langit mulai terlihat mendung di sekitar pemakaman umum Parepare, berbeda dengan salah-satu kuburan di pojok kiri pemakam itu. Disana telah lama hujan, hujan air mata penyesalah namun penuh kasih tersirat. Air mata dari seorang ibu muda bersama anak laki-laki semata wayangnya. Air mata itu terus jatuh ke pusara yang ada di depannya, pusara dengan batu nisan yang bertuliskan “Aku mencintaimu Suamiku....”. Ibu muda itu bernama Fatmawati Rachman dan anaknya Abdul Rachman.
Air mata dari ibu muda itu masih saja keluar dan jatuh ke pusara yang begitu indah dengan macam-macam kembang dan setangkai mawar merah di atasnya. Hingga hujan benar-benar turun dari langit yang sedari tadi telah memberikan tanda akan kehadirannya.
“Ayo mi ma’.... turun mi hujan” anaknya berdiri dan mengangkat pundak ibunya yang masih saja menangisi pusara itu. Dengan suara yang masih terseduh dan terus memandangi pusara itu seakan tak mau meninggalkan pusara seseorang yang terlihat begitu ia cintai, Anak itu merangkul ibunya dan berjalan menuju mobil mewah yang terparkir tepat di depan pemakaman tua itu.
17 Maret 2015
Tidak salah jika ibu muda yang kesehariannya sering di sapa Fatma ini terlihat sangat mencintai seseorang yang tengah beristirahat dengan pusara yang begitu indah di pemakaman tua kemarin. Pusara itu adalah pusara suaminya yang semasa hidupnya banyak memberikan arti cinta yang Fatma sendiri lambat memahami arti-arti cinta itu. Begitu besar cinta sang suami kepada Fatma, hingga mampu merubah hidupnya walaupun itu di akhir-akhir hayat suaminya. Bahkan sampai sekarang dimana Fatma belum berfikir untuk menikah lagi, dengan alasan yang sederhana, ia belum menemukan lelaki sebaik suaminya yang telah pergi, ia bahkan menikmati hidupnya menjadi seorang Single Parent atau ibu sekaligus bapak terhadap anak semata wayangnya. Dan menjadikan Fatma menjadi sosok wanita yang lebih baik lagi, menjadi seorang tokoh penulis terkemuka di Indonesia dan menjadi panutan serta ibu bagi mahasiswa-mahasiswanya di sebuah universitas swasta tempatnya mengajar sebagai Dosen sastra.
Fatma menjalani kehidupannya dengan penuh cinta yang telah di wariskan oleh suaminya. Memandang dari mata orang-orang di sekelilingnya memang fatma terlihat sebagai sosok ibu yang begitu tegar dan bahagia. Namun ternyata di dalam hati Fatma sendiri telah lama cinta dan penyesalan berkecamuk seakan membuat fatma begitu rapuh walau tak terlihat dari luar. Entah apa yang membuatnya menyimpan penyesalan yang begitu sangat mendalam.
Suamiku Hidup Dalam Buku dan Film
20 Maret 2015
Duduk di sebuah sofa kecil di dalam kamarnya, Fatma terlihat sedang mengetik sebuah naskah Novel dengan komputer tua miliknya, dengan kaca mata sebagai alat bantu penglihatan karena memang matanya sudah tak lagi setajam sewaktu ia masih seorang gadis manja semasa SMAnya, dan juga rambutnya yang beberapa helai mulai terlihat putih, namun Fatma tetap serius mengetik Naskah Novel barunya itu. Fatma memang gemar menulis sejak SMP namun ia baru serius menekuni hobinya itu sejak sang suami meninggal dunia. Sudah beberapa bulan terakhir ia tidak lagi mengeluarkan buku-buku tulisannya yang telah banyak di gemari di semua kalangan di Indonesia dan bahkan satu diantara novelnya sudah ada yang di Artikan dalam tiga bahasa. Kehidupannya yang berkecukupan sekarang memang di dapat dari buah karyanya sebagai seorang penulis dan juga sebagai seorang Dosen.
Sosok suami masih selalu dan mungkin akan selalu terbayang hingga ia bertemu dengan sang suami di dunia lain nantinya. Maka dari itu Fatma menuangkan kisah hidupnya sejak bertemu dengan sang suami sampai hari ini di dalam sebuah novel. Baginya ini merupakan curahan hati darinya yang akan di baca dan di dengar oleh pembaca buku-bukunya.
Untuk bukunya kali ini, Fatma tidak berharap akan menuai kesuksesan seperti buku-bukunya terdahulu. Fatma hanya ingin menceritakan kembali sebuah kisah yang penuh dengan cinta namun juga menyisakan sebuah penyesalan. Ia hanya berharap suaminya tahu akan cintanya yang begitu besar walaupun buah cinta itu tak begitu lama ia dan suaminya rasakan kebahagiaan yang tersimpan di dalamnya.
Fatma tak menyianyiakan waktu senjangnya itu untuk beristirahat, fatma justru mengisinya dengan ketik dan mengetik naskah novel yang ia harapkan sesegera mungkin bisa selesai. Dengan ketekunanya itulah hingga hanya sebulan ia bisa menyelesaikan bukunya. Tak menunggu lama Fatma langsung mengirimkan buku naskah barunya kepada sebuah penerbit untuk di bukukan dan diterbitkan. Sebuah penerbit yang memang tempat buku-buku Fatma lainnya di terbitkan.
19 Mei 2015
Sudah beberapa hari terakhir sejak di terbitkannya buku baru dari seorang penulis yang terkenal dengan novel-novel cintanya, tangis dan haru sebagai ekspresi dari para pembaca novel terbaru Fatma. Novelnya telah banyak terjual bahkan sudah beredar ke beberapa kota-kota besar di Indonesia. Apresiasi haru dari para pembaca terus berdatangan, mulai dari Akun facebooknya, twitter dan bahkan para pembaca dan penggemarnya datang langsung mengucap selamat atas kesuksesan dari Novel terbarunya. Fatma sendiri tak pernah menyangkah akan seuphoria ini dan menjadi trending topic di setiap pembicaraan bahkan juga di dunia maya. Novel yang berjudul “Persembahan Rinduku Padamu” dan begitu sederhana ini ternyata banyak menyentuh hati para pembaca.
Sampai beberapa hari kemudian, orang-orang masih saja membicarakan novel itu. Bukan hanya itu, novel yang dua hari yang lalu mendapat penghargaan ini sebagai “Best Seller” dan bahkan lagi semakin banyak permintaan untuk mencetak kembali buku itu.
“ceritanya sangat menyentuh, buku ini memberikan banyak pelajaran akan cinta yang begitu besar namun lambat untuk memahami kebesarannya.... novel ini akan lebih bagus lagi jika di Filmkan.....”  kata seorang produser Film yang tengah di wawancarai oleh wartawan sebuah program Infotainment di Televisi. Dengan senyum bahagia, Fatma dan anaknya menonton televisi di ruang keluarga di rumahnya. Bagi Rachman anak semata wayangnya, senyum yang terlukiskan di wajah ibunya itu jarang sekali ia lihat. Mungkin karena penyesalan itu yang masih terbayang.
20 Mei 2015
Pagi-pagi buta Fatma mempersiapkan sarapan untuk Rachman anaknya. Setelah itu ia langsung berangkat ke kampus dimana ia menjadi Dosen. Mahasiswa-mahasiswanya mungkin sudah menunggu dan lagi pula hari ini ia harus begitu semangat dan bugar karena setelah mengajar di jam pertama ia harus menghadiri acara bedah buku “Persembahan Rinduku Padamu” karyanya sendiri. Ia hadir untuk menjadi narasumber sebagai penulis dari buku yang akan di bedah. Semangatnya begitu terpancar keluar bahkan seakan tertular ke orang-orang yang di laluinya, bahkan tubuhnya juga terlihat bugar. Memang seperti itu harusnya, selain kampus yang ia tempati mengajar sedang mengadakan kegiatan bedah buku olehnya, ia juga baru-baru telah di datangi oleh seorang produser film yang berniat mengadaptasi novelnya ke sebuah film layar lebar. Tanpa pikir panjang fatma langsung mengiyakan maksud dari produser itu. Semua itu di lakukan fatma bukan karena harga hak cipta yang begitu mahal di terimanya, namun yang terpenting adalah niat awalnya yang memang berniat untuk membukukan dan memfilmkan kisahnya sebagai ajang curahan hati sang perindu sepertinya.
Kegiatan bedah buku di gedung aula kampus akhirnya selesai. Semangat dan kebugarannya masih juga seperti sedia kala bahkan setelah mengakhir jam terakhirnya di sore hari dan bahkan sampai di rumah. Di rumah sudah ada Rachman anaknya menunggu. “Sudah jaki’ makan nak...?” tanya Fatma kepada anaknya. “sudah mi’...” jawab Rachman walaupun dengan wajah yang lemas seakan belum makan seharian. “isshhh.... kenapa si itu lagi muka na jelek skali di liat..?” canda Fatma kepada anaknya, ia kemudian merangkul dan membawanya duduk di atas sofa di ruang keluarganya “ada masalah ta ga... cerita ki sama mama” tanya lagi Fatma kepada anaknya perihal wajah lemas anaknya itu. Hingga fatma merasa terguncang setelah mendapat pertanyaan balik dari anaknya yang menyinggung orang yang sudah lama ia hapus dari ingatannya walaupun masih sempat ia ceritakan sosoknya di dalam bukunya yang baru. Ya seseorang yang termasuk tokoh penting di kisahnya bersama sang suami. “ma’.... tidak pernah pi saya baca buku ta yang baru bahkan tidak mau ka bacai karena ada kisah yang tidak mau saya ingat. ma’... asalkan kita taui... ku sayang skali bapak dan bahkan rindu sekali ka juga sama Alm. Walaupun bukan ka anak kandungnya, tapi sudah saya anggap mi sebagai bapak kandungku sendiri. Tapi kenapa sekarang mau sekali ka tau siapa sebenarnya bapak kandungku.... ma’..?” tanya balik Rachman yang secara tiba-tiba mengungkit kembali masalah yang bahkan telah mereka sepakati untuk tidak di bahas lagi. Marah sempat menjadi jawaban dari tanya yang di lontarkan Rachman anaknya. Bahkan ada sedikit rasa penyesalan karena telah menceritakan kembali kisah lalu itu ke dalam buku bahkan juga di Filmkan. Fatma merasa ini adalah salahnya sendiri, jika ia marah kepada anaknya karena mengungkit kembali sosok itu, harusnya ia marah kepada dirinya dulu karena ialah yang terlebih dahulu mengungkitnya bahkan lewat sebuah buku dan Film.
Senyap seketika pembicaraan panas antara ibu dan anak itu, hingga Fatma berpikir untuk menjawab dengan lurus-lurus saja. Ia juga berpikir bahwa Rachman memang harus mengetahui siapa, bagaimana, dan dimana ayah kandungnya sekarang berada. Dengan penuh kasih sayang sebagai seorang ibu, fatma dengan hati yang tegar menceritakan kembali khusus kepada anaknya tentang kisahnya bersama Ayahnya atau suami dari ibunya dan juga Ayah kandungnya.
Kembali ke19 Tahun Yang Lalu
4 Februari 1995
Dedaunan kering kecoklatan berjatuhan dari ranting pohoh-pohon sekolah disaat hembusan angin yang begitu kencang datang dan seakan memaksa pepohona sekolah untuk menari. Hal itu menjadi pemandangan yang begitu indah terlihat sekitar jam 10 pagi tepatnya di sebuah sekolah menengah atas. Di sela hembusan angin yang dinginnya menusuk hingga ke tulang dan di antara dedaunan kering yang berjatuhan terlihat seorang gadis cantik menebar senyumnya seakan memperindah pagi itu. Gadis itu adalah Fatma yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas. Fatma sangat menyukai angin, baginya angin mampu membuat pohon-pohon dan dirinya menari.
“Ting.. tong....” bel masuk untuk mengikuti pelajaran selanjutnya sudah berbunyi. Fatma dengan cepat beranjak dari halaman sekolah tempat ia menari dengan pepohonan sekolah. Di dalam kelas fatma merupakan siswa yang cerdas, cantik, manja, namun juga sedikit jail kepada teman-teman sekelasnya. Sosok ramah dan periang dari fatma membuat fatma menjadi sosok yang di sukai oleh teman-temannya bahkan bukan hanya untuk di jadikan teman tapi juga ingin di jadikan kekasih oleh teman-teman lelakinya.
Di saat pelajaran sudah di mulai, fatma masih terlihat gelisah dan sesekali menengok keluar kelas. Fatma bukannya gelisah karena proses belajar dan juga ia menengok keluar bukan karena ia masih ingin menikmati waktu istirahatnya, tapi ia sedang mencari seseorang, dia adalah sahabatnya. Seorang lakil-laki gagah, kaya, pintar, namun tidak sombong layaknya seperti sebahagian besar orang kaya di sekolahnya. “Assalamu Alaikum.... maaf terlambat ka bu’...” seorang laki-laki masuk dengan nafas yang masih tergopoh. “dari mana ki’...?”  tanya guru yang sedang mengajar di kelas fatma. “dari ka kantin bu’... maaf..” jawab laki-laki itu dan langsung masuk ke ruang kelas menuju ke arah fatma dan kemudian duduk di sebelah fatma. Dia lah orang yang membuat Fatma gelisah dan sesekali menengok keluar kelas. Dia lah sahabatnya seseorang yang telah lama ia kenal bahkan terus bersamanya sejak ia bersama-sama sekolah di salah satu SMP swasta di kotanya. “isshhh.... kau toh.. makan terus mu tau” tanya fatma dengan sedikit kesal. Sahabatnya itu hanya tertawa untuk menjawab tanya dari Fatma.
Hari-harinya di sekolah di lalui fatma dengan penuh keceriaan. Bukan hanya karena menjadi seorang tuan putri di samping sahabatnya yang hampir setiap harinya di sekolah ia habiskan bersama sahabatnya itu, tapi juga ternyata keceriaan itu bersumber dari seorang laki-laki lain yang menjadi sosok idolah bagi fatma di sekolahnya. “weededeehh... cokka’nya kau wee...” terlihat fatma sedang memandangi sosok lelaki yang sedang bermain futsal di lapangan sekolah. “mata keranjang to ki di’...” sapa sahabatnya dengan nada ejekan dari belakang. “apa to kau Rahman..?” dengan jutek fatma menjawab sahabatnya. Sahabatnya yang bernama Rachman itu kemudian memberikan segelas minuman dingin yang ia baru beli di kantin. “ayo masuk kelas..??” ajak Rahman seakan ingin mengalihkan perhatian fatma yang tertuju pada seorang laki-laki yang sedari tadi ia pandangi. “isshh.. nanti pi.. lagian belum pa ki’ juga masuk” fatma dengan bersikeras tak mau mengiyakan ajakan Rahman. Namun beberapa menit kemudian akhirnya bel berbunyi menadakan waktu istirahat sudah berakhir di lanjutkan dengan masuk ke kelas untuk menerima pelajaran selanjutnya. Di dalam kelas, Rahman menjadi tidak fokus menerima pelajaran karena harus mendengar curahan hati Fatma tentang lelaki yang bermain futsal tadi dan ternyata lelaki yang sudah lama Fatma kagumi itu. Di lain sisi, Rahman terlihat menyembunyikan kecemburuannya, karena ternyata Rahman juga menyimpan rasa kagumnya kepada Fatma. Iya sudah lama tahu kalau sahabatnya itu menyukai laki-laki lain dan justru bukan dirinya yang sudah lama bersamanya.
Sepulang dari sekolah atau tepatnya ketika sore hari, Fatma dan Rahman biasanya bermain di lapangan A. Makkasau. Lapangan yang bertempat di pusat kota Parepare. Disana mereka biasanya bermain, berlari santai sambil menanti gelapnya malam menyapu terangnya siang. Bercanda dan saling menjaili menjadi kesibukan selingan di sore itu. Ramainya dan indahnya lapangan A. Makkasau memang cocok bagi para kaula muda untuk memadu kasih. Alasan untuk berolah raga itu hanya menjadi nomor kedua bagi para pengunjung lapangan itu. Rahman pun tak ketinggalan untuk sesuatu yang romantis itu, sesekali ia mencoba merayu sahabatnya itu, walaupun di anggap bercanda bagi Fatma. Rahman memang sudah lama menyukai Fatma tapi melihat persahabatan yang sangat kuat diantara mereka berdua membuat Rahman seolah enggan mengungkapkan perasaan lebihnya kepada Fatma, ia takut membuat kondisi persahabatannya justru semakin terpuruk dan membuat Fatma justru menjauh darinya.
Parepare Di Malam Hari
Hirup pikuk Kota Parepare lebih terasa di malam hari, dan waktu itu tidak disia-siakan dua anak muda ini untuk keluar menyusuri malam. Sore tadi Rahman mengajak Fatma untuk jalan-jalan di malam harinya dan Fatma langsung mengiyakan ajakan sahabatnya itu. Rahman dengan motor Vespa unik miliknya menjemput Fatma di rumahnya.
Di cermin besar terlihat paras cantik dengan gincu merah maron di bibir, Fatma seolah seorang Cinderella sedang merias wajah dan tubuhnya di dalam kamarnya setelah janjian dengan rahman untuk keluar malam ini. “tok... tok...” terdengar ketukan dari pintu kamarnya. “Fatma.... datang mi Rahman cepat mi turun nak....!” teriak Ibunya dari luar. “Iyahh... sebentar mami” jawab Fatma dengan teriakan juga. Fatma kemudian bergegas keluar dari kamarnya dan segera menemui Rahman yang sudah sedari tadi menunggu dirinya. Di ruang tamu sudah terlihat dan terdengar bincang-bincang canda tawa Rahman dan orang tuanya. Rahman memang sudah dekat dengan kedua orang tua Fatma begitu pun sebaliknya Fatma juga sudah di Anggap anak sendiri bagi Ayah Rahman.
Terkejut dan sedikit heran terlukis di wajah Ayah, ibu, dan juga rahman setelah Fatma tiba diruang tamu. “mau jalan-jalan atau ke orang Kawin..?” ibunya dengan heran mempertanyakan perihal dandanan Fatma yang berbeda dari biasanya. Setelah pamitan dari kedua orang tua Fatma, Rahman langsung mengajak Fatma. Di perjalanan keluar dari rumah, Rahman terlihat senyum-senyum heran. Ia masih bertanya-tanya dalam hati perihal dandanan Fatma itu. “Tidak biasanya ia berdandan seperti itu... apa lagi jalan-jalannya kali ini juga hanya menyusuri malam kota parepare saja dan bukan untuk ke kondangan atau ke tempat yang sedikit lebih formal” tanyanya dalam hati. Malam ini serasa berbeda bagi rahman, ia memang sudah sering membawa fatma jalan-jalan tapi baru kali ini ia menyaksikan riasan Fatma yang seolah akan mengadakan diner di sebuah restoran atau lebih tepatnya kencan.
Vespa sudah beraksi membawa tuannya dan orang yang di cintai tuannya. Di atas motor canda dan tawa kembali menghiasi malam itu. “mau ki’ kemana gah....?” tanya Rahman. “ishh... kau ia, yang ngajak..?”. jawab fatma. Malam itu di habiskan Fatma dengan jalan-jalan dan belanja di salah satu pasar malam yang terkenal di parepare bahkan Sulawesi Selatan yaitu Pasar Senggol. Mereka keliling hingga mereka berdua merasa lapar dan haus. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari pasar dan kemudian ke subuah caffe di pinggir jalan untuk membayar rasa lapar dan hausnya. Canda dan tawa kembali terlihat di caffe itu, selang beberapa menit canda dan tawa itu pun berhenti ketika seorang pria datang menghapiri meja makan mereka. “permisi.... kita di bilang Fatma tohh..?” tanya pria itu kepada Fatma. Fatma dengan penuh keheranan menjawab tanya pria itu dengan ucapan terbata “i..ii.. iya... kita Andri toh..?” sedikit malu dan canggung fatma langsung menebak nama dari pria yang memang sudah Fatma kenal. Ya pria itu adalah Andri seseorang yang telah lama di kagumi Fatma dan selalu ia pandangi ketika bermain di lapangan sekolah. “bisa ka gabung...?” tanya andri dengan niat duduk bersama Fatma dan Rahman. ”i..ii..iya duduk ma ki’.. owh iya.. dari mana ki’ tau namaku” tanya Fatma dengan masih sedikit canggung dan malu-malu. “kita iya dari mana ki tau namaku..?´jawab andri dengan sebuah pertanyaan balik membuat fatma hanya tertawa malu hingga tak berkata-kata lagi. Malam itu kembali memperlihatkan canda tawa, namun canda tawa yang terlihat bukan lagi dari Rahman dan Fatma melainkan dari Pria yang baru saja Fatma temui yaitu Andri. Fatma tak terlihat canggung dan malu-malu lagi melainkan sangat menikmati pembicaraannya dengan Andri seolah seseorang yang baru saja bertemu dengan teman lama. Bahkan karena Asyiknya Fatma ngobrol dengan Andri, ia sampai lupa dengan sahabatnya Rahman dan sudah sejak tadi berdiam diri.
Beberapa jam kemudian Rahman dengan kekesalan yang tersembunyi memotong pembicaraan Fatma dan Andri yang sedang asyik ngobrol. “Ayo mi Pulang tengah malam mi..!” ajak rahman, meminta kepada fatma untuk segera pulang. “isshh... nanti pi, santai mko dehh... baru ji juga jam berapa” jawab Fatma dan menolak ajakan Rahman. “Iya tapi na cari ki’ nanti bapa sama ibumu..!” Rahman mencoba untuk terus memaksa Fatma untuk segera pulang. Namun Fatma terus bersikeras tak mau pulang. “pulang mako duluan... andri pi yang antar ka’....” kekesalan Fatma memuncak dan bahkan mengatakan Andrilah yang akan mengantarnya pulang walaupun belum meminta kepada Andri. Akhirnya rahman dengan penuh kekesalan dan pastinya dengan kecemburuan yang membakar lekas pergi dari hadapan Fatma dan Andri. Fatma hanya melihatnya dengan terdiam walaupun sedikit rasa kecewa terhadap sikapnya sendiri yang memperlakukan Rahman seperti itu. Namun bagi Fatma kesempatan ngobrol dengan Andri juga adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh di lewatkan.
Jam 12 malam akhirnya Fatma pulang ke rumah dengan di antar oleh Andri. Terlihat keceriaan dan senyum bahagia dari paras anak remaja yang sedang di mabuk cinta ini. Fatma sampai di rumah, dan Andri juga lekas pergi dari depan rumahnya. Dengan rasa was-was Fatma berjalan menuju pintu rumah dan segera membukanya dengan pelan. Ia tahu bahwa akan di marahi oleh ayah ibunya karena lambat pulang kerumah. Namun sepertinya orang di rumah sudah tidur dengan lampu rumah yang sudah padam semua. Fatma membuka pintu rumah secara perlahan tanpa bunyi, setelah mengunci pintu rumahnya Fatma berjalan menuju kamarnya, namun belum sempat ia masuk ke kamar lampu sudah menyala secara tiba-tiba dan membuat fatma kaget. Ternyata itu ayahnya yang sudah sedari tadi menunggu kepulangan Fatma. Fatma yang memang tidak membawa Handphonenya ketika keluar bersama Rahman sore tadi membuat ayahnya kesal dan membuat ia susah menghubungi Fatma. “dari mana ko... tengah malam begini, kenapa juga bukan Rahman yang antar ko...!!!” dengan wajah merah akan kelakuan anaknya itu, Ayahnya dengan keras bertanya kepada Fatma yang ternyata memang sudah tahu bahwa anaknya akan lambat pulang dan akan di Antar oleh orang lain. Ternyata Rahman setelah pulang dari caffe tempat ia makan dan Fatma, Rahman tidak langsung pulang ke rumahnya ia mampir terlebih dahulu di rumah Fatma dan memberitahukan semua yang terjadi kepada Ayah dan ibu Fatma. Fatma yang hanya tertunduk kesal tak mampu menjawab pertanyaan dari Ayahnya. Ia kemudian langsung ke kamarnya setelah mendapat amarah dari Ayahnya buah hasil dari kelakuannya malam itu.
Fatma tanpa mengganti pakaiannya dan membersihkan wajahnya langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Kemarahan ayah padanya seolah sirnah oleh suasana bahagia saat bersama Andri di caffe tadi. Namun kekesalannya juga masih tetap membayangi walau kekesalan itu tidak untuk Ayah tapi untuk Rahman. Ia kesal mengapa Rahman harus melapor ke Ayahnya tentang keterlambatannya pulang karena bersama orang lain. Fatma tahu bahwa Ayahnya tidak akan marah jika ia Lambat pulang dengan ketentuan ia bersama Rahman, namun saat itu ia bersama dengan pria lain yang Ayahnya belum kenal bahkan Fatma sendiri baru pertama kali bertegur sapa.
Jatuh Cinta dan Kecemburuan
Keesokan harinya di sekolah, Fatma masih terlihat memancarkan aura bahagia atas apa yang di alaminya semalam. Kebahagiaannya memuncak disaat ia bertemu kembali dengan Andri di sekolah. Ia dan Andri semakin akrab saja dan semakin dekat saja. Pagi itu di lalui Fatma dengan bahagia karena ia dan pria idamannya sedah semakin dekat saja. Akhirnya bel pertanda pelajaran pertama di hari itu sudah berbunyi memaksa Fatma harus mengakhiri perbincangannya bersama Andri. Fatma lalu berbegegas menuju ke kelas. Di dalam kelas terlihat Rahman sedang bercanda tawa dengan teman kelas lainnya, tiba-tiba Fatma datang menerobos dan meluakkan kekesalannya terhadap Rahman atas apa yang di lakukan nya semalam sehingga Fatma mendapat ocehan dari Ayahnya. “weee... apa massu’mu gah...! kenapa pake acara lapor segala ..!!” tanya Fatma dengan sedikit marah, Rahman hanya mengalihkan perhatian dan terdiam sejenak kemudian ia berjalan ke tempat duduknya di ikuti Fatma yang masih menunggu jawaban atas tanya yang di berikan. Dengan santai Rahman kemudian menjawab tanya kesal dari Fatma. “semua yang ku lakukan semata-mata karna bentuk perhatianku ji sama kau.. nda mau ka kalo kenapa-kenapa ki’... karna kau sahabatku” jawaban Rahman yang santai dan penuh kesungguhan membuat Fatma terdiam dan tak menghujatnya lagi dengan pertanyaan. Jawaban itu juga kemudian membuat Fatma luluh hingga kemudian memaafkan Rahman. Ia sadar bahwa ini bukan sepenuhnya salah Rahman, bahkan Rahman tak bersalah sedikit pun, justru dirinya lah yang salah tak seharusnya ia kesal dan marah kepada Rahman.
Hubungan mereka kembali seperti semula, yaitu persahabatan antara Fatma dan Rahman. Namun kisah persahabatannya kali ini sudah terasa berbeda bagi Rahman, bagaimana tidak, hari-harinya dengan Fatma selalu di isi oleh cerita tentang Andri yang di tuturkan oleh Fatma. Fatma yang tak menyadari soal perasaan lebih dari Rahman dan merasa bahwa Rahman adalah sahabat sekaligus pendengar yang baik baginya membuat ia terus-terusan bercerita soal cintanya kepada Andri.
Tepat jam 2 siang menjelang sore, didalam kelas terlihat siswa-siswi bergegas merapikan kembali buku-bukunya kedalam tas dan kemudian pulang kerumah masing-masing. Fatma dan Rahman kemudian keluar dari kelas dan segera pulang. Karena hari itu Ayah Fatma tidak bisa menjemputnya di karenakan ada urusan kantor yang harus di selesaikan akhirnya Fatma di antar pulang oleh Rahman.
Di parkiran sekolah Rahman kemudian mengambil motornya dan kemudian memberikan helm mini kepada Fatma untuk di gunakan. Tiba-tiba seseorang dari belakang menghampiri mereka berdua. Dia adalah Andri yang kemudian menegur Fatma yang ternyata juga berniat menjemput Fatma. “heyy... Ayo saya antar ki’ pulang” tegur Andri. “bikin kaget ki’ saja... masalahnya sama ka Rahman pulang” jawab Fatma dengan kaget. “ohh... saya kira sendiri ki’...” Andri dengan rasa kecewanya kemudian lekas menarik diri dari hadapan Fatma dan Rahman. Belum jauh Andri melangkah dari Hadapannya, Fatma kembali menegur dan kemudian mengiyakan ajakan Andri, membuat Rahman tercengang dan bertanya kepada Fatma. “wee.. namarahi ki’ lagii bapak kalo sama ki orang lain pulang!” tanya Rahman mencoba mengingatkan Fatma. “please.. dan minta maaf ka’... biarkan mi dlu andri yang antar ka’ na... lagi pula tidak na tau ji itu bapak kalo tidak mulapor i..??”  fatma dengan memohon kepada Rahman agar di ijinkan pulang di antar oleh Andri dan tidak melaporkannya kepada Ayahnya. Rahman yang tak mau persahabatannya kembali runyam, ia dengan rasa kecewa dan cemburu terpaksa mengiyakan apa yang di pinta oleh sahabatnya itu. Bagi Fatma ini juga adalah saat-saat yang di nantikannya, baginya ini adalah langkah awal untuk lebih akrab dan dekat dengan Andri yang sudah lama ia kagumi. Di lain sisi, Rahman hanya terpaku melihat Fatma di antar oleh orang lain dan bukan dirinya, ia terpaksa merelakan itu demi persahabatan pikirnya.
“trrriing... trrriing...” deringan HP milik Rahman berbunyi tepat di sampingnya. Rahman yang sedang membersihkan motor vespa miliknya berberes dan kemudian mengangkat telphone yang ternyata telphone dari Fatma.
Rahman: Haloo... Fatma..
Fatma: Iyah Rahman.. btw lagi Apa ki’...?
Rahman: lagi bersihkan motor ka’... kenapa ki’ nelphone?
Fatma: mau ki’ pergi jalan-jalan gah?
Rahman:dmn?
Fatma: di Lapangan A. Makkasau..!
Rahman: owh.. iya tunggu ma... saya jemput ki’...
Fatma: jangan mi.. duluan ma ki’ kesana.... tunggu ka disana nah...
Rahman: owh.. iyah palee... cepat ki’..
Rahman dengan wajah kembali ceria segera ke kamar mengganti pakaiaannya dan kemudian berangkat ke Lapangan A. Makkasau seperti janjinya bersama Fatma. Walau pun sebahagia itu, namun di perjalanan ia bertanya-tanya mengapa Fatma tidak mau di jemput olehnya, pikirnya selalu positif terhadap Fatma, mungkin Fatma akan menggunakan sepeda ke lapangan sehingga enggan untuk di jemput.
Rahman tiba terlebih dahulu di Lapangan dan menunggu Fatma yang belum juga muncul. Selang beberapa menit, Rahman yang duduk sendiri di bawa pohon beringin pinggir lapangan terus menunggu sahabatnya datang. Tiba-tiba seseorang mengagetkannya dengan menepuk pundaknya dari belakang. Ya itu Fatma, awalnya senang karena Fatma telah datang, namun kemudian hancur rasa itu ketika Rahman tahu ternyata Fatma datang bersama orang lain yaitu Andri, dan perihal mengapa Fatma tidak mau ia jemput ternyata semua karena Andri yang menjemputnya.
Romansa yang ia selalu lakukan ketika berdua dengan Fatma tak bisa lagi Rahman lakukan. Romansa itu kini di rebut oleh Andri. Rahman sadar akan cinta Fatma kepada Andri membuat ia pasrah menerima itu dan membiarkannya berjalan sesuai dengan kehendak sang dewa cinta.
Kecemburuannya tak hanya ia rasakan di lapangan kemarin, hari ini dan mungkin seterusnya akan ia rasakan. Di sekolah kebersamaannya seperti tak nampak lagi. Hanya sekejap saja ia bersama Fatma selebihnya Fatma lebih sering berdua bersama Andri. Dan kekecewaan itu pun memuncak sejak ia tahu bahwa Fatma dan Andri telah resmi pacaran.
Dengan penuh keceriaan bahagia, Fatma berlari menuju ke dalam kelas, “Rahman...!!! pasti nda percaya ko...” Fatma dengan senyum bahagia terpancar dari wajahnya seolah ingin memberi tahukan sebuah kabar yang baik untuk Rahman. “kenapa ki’...??” tanya Rahman dengan keheranan. “wee... akhirnya pacaran ma’ sama Andri, tadi malam jadian ka...” jawab Fatma dengan bahagianya. Kabar itu ternyata memang kabar gembira, ya benar gembira bagi Fatma tapi tidak bagi Rahman yang cintanya telah di miliki oleh orang lain.
Hari-hari Fatma di sekolah kini semakin terlihat ceria saja, bagaimana tidak, hari-hari itu di lalui bersama seseorang yang sudah lama ia kagumi dan akhirnya sekarang telah menjalin hubungan serius bersama. Di lain sisi, Rahman hanya bisa pasrah menerima semua itu, ia lebih sering menyendiri. Bukan karena keinginannya, tapi karena tak ada lagi seseorang yang menemaninya. Seseorang yang ia cintai kini bersama orang lain.
Wilda Penghapus Kecemburuan dan Pencipta Kecemburuan
Libur semester ganjil sudah di mulai, rahman yang biasanya menghabisi waktu liburnya bersama Fatma, kini harus mengubur dalam-dalam keinginannya itu. Lama sudah hari-hari Rahman  tidak di lalui bersama Fatma. Semua itu karena Fatma yang tak punya waktu lagi untuk menemuinya.
Suatu hari ketika Rahman ingin keluar dari rumahnya untuk berjalan-jalan, tiba-tiba telphonenya berdering. Dan itu adalah panggilan dari Fatma. Bahagia tak lagi terpancar dari wajahnya, walaupun sudah lama ini Fatma tidak pernah memberi kabar setelah ujian semester ganjil kemarin. Dan kini tiba-tiba menelphone.
Rahman: Haloo...
Fatma: Halo.. Rahman..
Rahman: Masih mu ingat ka’ pale..??
Fatma: isshhh... kenapa bilang begitu..?
Rahman: hehehe.. tidak,.. main ja.. owh iya ada apa..??
Fatma: begini,... besok itu hari ulang tahunnya Andri, jadi mau ka kasih kejutan buat dia... kenapa saya telphone ki’.. karena mau ka minta tolong bantu ka untuk persiapkan kejutannya...
Rahman: kenapa minta tolong sama saya ki’..??
Fatma: issshh... kan kau sahabat ku...
Rahman: owh.. jadi itu pi mu anggap ka lagi sahabatmu kalo ada mau mu... (candanya)
Fatma: kenapa bilang begitu ki’... yahh jangan mi pale kalo nda mau ki’.. (sedikit kesal)
Rahman: hehehe.. main ja’... sebenarnya mau ka tapi...
Fatma: tapi apa..???
Rahman: besok mau ka juga berangkat ke polman, mau ka kerumahnya nenek ku masuk rumah sakit soalnya...
Fatma: owhh... iyahh pale nda papa... salam ku sama nenek mu (dengan sedikit kecewa)
Rahman: iyahh... maaf nahh...
Fatma: iyaahh nda papa jii...
Fatma sangat kecewa karena tak ada yang bisa membantunya untuk mempersiapkan kejutannya kepada Andri yang akan berulang tahun. Rahman pun begitu, ia merasa bersalah karena tidak mampu membantu Fatma walaupun semua itu hanya untuk laki-laki lain yaitu Andri.
Libur panjang itu di lalui dengan sendiri-sendiri anatara Fatma dan Rahman. Fatma dengan kemesrahannya bersama Andri dan Rahman yang lebih sibuk bersama keluarganya di Polman.
Dua minggu sudah berlalu, libur panjang pun sudah berakhir. waktunya untuk kembali ke sekolah melanjutkan profesi sebagai pelajar. Di sekolah hari-hari Rahman tak lagi seperti dahulu, kini ia hanya mampu menyebunyikan perasaan cintanya dari jauh kepada Fatma. Sudah tak banyak Waktu untuk berdua bersama Fatma.
Disemester kali ini anak kelas tiga akan semakin disibukkan. Ketegangan juga semakin hari semakin memacu. Masa-masa sekolah akan segera berakhir dengan hari-hari yang padat akan keseriusan belajar untuk kesiapan menghadapi Ujian Nasional yang sebentar lagi akan mereka hadapi. Rahman kini tak lagi terpuruk dalam kesedihannya oleh karena cinta yang tak sampai, ia kini lebih serius belajar untuk menghadapi UN yang sudah di depan mata. Lain halnya Rahman, lain pula dengan Fatma dan Andri. Fatma tak terlihat menyibukkan diri dengan giat belajar, Fatma lebih sering menghabiskan waktu dengan beradu cumbu bersama Andri. Ia seakan tak memikirkan dan mempersiapkan diri dengan UN yang akan di hadapinya.
Hari-hari berlalu dengan penuh kemesrahan, Fatma dan Rahman tak pernah lagi terlihat bersama. Di dalam kelas pun ia tak pernah lagi mengobrol bersama bahkan untuk saling menyapa pun tak pernah lagi. Sebenarnya Fatma pernah mencoba untuk mengobrol dengan Rahman, tapi Rahman terlihat enggan dengan alasan dia mau Fokus untuk belajar, dan bahkan kini sudah tidak sebangku lagi di dalam kelas. Mereka menjalani kehidupannya masing-masing, Rahman sibuk dengan giat belajar dan Fatma masih tetap pada kemesrahannya bersama Andri.
Di sore hari Rahman berangkat ke sekolah untuk melakukan belajar bersama teman-teman yang lain. Saat menjawab soal-soal latihan UN, Rahman mendapat Telphone dari Ayah Fatma.
Ayah Fatma: Haloo..... Assalamu Alaikum..
Rahman: Iyah Waalaikum Salam Omm....
Ayah Fatma: Lagi Apa ki’ Nak..?
Rahman: Di sekolah Ka’ sekarang Omm,... latihan UN..
Ayah Fatma: owh iyahh... kenapa ndag pernah ma ki’ sama Fatma..?
Rahman: Hehehee.. ndag ada ji Omm,... sekarang sibuk ka’ juga jadi jarang ma main ke rumah....
Ayah Fatma: Owh... Ada ji Fatma disitu toch..??
Rahman: Tidak ada Omm...
Ayah Fatma: Owh.. saya kira disitu juga, soalnya tadi pas mau keluar, bilang kalo mau ke sekolah belajar.
Rahman: Owh... tapi ndag ada ji Omm disini....
Ayah Fatma: kemana pale itu anak-nak... begini pale nak, tolong cari dulu Fatma, dan kalo bisa mulai sekarang belajar sama-sama teruski sama Fatma nah.. soalnya ndag pernah ji kuliat belajar kalo di rumah padahal mau mi UN. Bisa ji toh nak..?
Rahman: owh.. i..ii..iya Om... saya usahakan pi...
Ayah Fatma: iyahh... terima kasih pale nak aa... Ass. Kum...
Rahman: Iyahh Om.. Wal. Salam
...
Rahman tak bisa menolak permintaan dari Ayah Fatma yang memintanya untuk kedepannya terus bersama Fatma dan belajar bersama Fatma dalam menghadapi UN yang sudah di depan mata. Rahman sadar kalau Fatma sudah tidak mengharapkan kehadiran dirinya lagi di kehidupan Fatma. Tapi apa boleh buat, permintaan ayah Fatma seakan membuat lidahnya kaku hanya untuk sekedar berucap “tidak” untuk menolak permintaan dari Ayah Fatma. Karena permintaan Ayah Fatma itu, Rahman yang sedang mengerjakan Soal latihan UN, sudah tidak fokus lagi untuk menyelesaikannya, membuatnya beranjak pergi meninggalkan teman-teman yang lain dan pulang kerumah untuk menenangkan pikirannya.
Di keesokan harinya, Rahman mencoba berbicara dengan Fatma tentang apa yang kemarin di minta oleh Ayah Fatma kepadanya. Rahman terlihat ragu dan malu saat ingin menyapa Fatma, begitupun sebaliknya Fatma. Mereka mengobrol dengan penuh kecanggungan, seakan seperti orang yang baru saling mengenal satu sama lain.
“fatma... “ tegur Rahman kepada Fatma yang sedang membaca Novel di pojok belakang kelas. “hei.. kenapa ki’...??” sahut Fatma juga dengan ragu. “kemarin na telphone ka’ bapak ta... terus na minta ka’ untuk belajar sama-sama dengan kita’....” Rahman memulai pembicaraan dengan topik utamanya. “teruss....” jawab Fatma dengan Tanya. “yaahhh... bagaimana menurut taa..” jawab Rahman dengan tanya juga. “iyahh sudah ja juga na tanya bapak.. yahhh.. kalo memang tidak keberatan ja ki’ kalo sama ki’ belajar, mau ka ia.. tapi terserah kita ji... kalo memang mau ki, ya mau ja ki” jawab Fatma dengan sedikit canggung. “owh.. berarti kita mau ji toch... kalo gitu mulai besok belajar di perpus daerah ki” balas Rahman dan langsung mengajak Fatma untuk memulai belajar bersama. “hehehe... iyahh kita jemput ka’ pale besok sore...” Fatma langsung meng-iya kan pinta dari Rahman. Semoga ini bisa menjadi awal untuk kembali mengharmoniskan persahabatannya, pikir Fatma.
Ke esokan harinya, Rahman datang menjemput Fatma dirumahnya untuk segera ke Perpustakaan Daerah seperti janjinya bersama Fatma kemarin. Fatma dengan tanpa canggung lagi keluar dari rumah menghampiri Rahman yang sudah tiba, dan langsung menuju ke perpustakaan daerah berdua untuk belajar bersama.
Di perpustakaan, mereka memulai dengan mencari buku untuk kemudian mereka baca dan pelajari. Saat sedang mencari buku, tiba-tiba suara tegur sapa dari belakang terdengar. “Rahman...” seorang perempuan menyapa Rahman yang sedang mencari buku bersama Fatma. Rahman dan Fatma kemudian menoleh ke belakang, “Awwee....kau gah bondeng..??” balas Rahman yang terlihat tak menyangka akan bertemu dengan perempuan yang ia panggil “bondeng” itu. Perempuan itu bernama Wilda yang ternyata adalah teman Rahman semasa SD. “isshhh.... ndag bondeng ma... ternyata masih ku ingat ka palee.... “ canda Wilda kepada Rahman. “jelas mi... kau ia, bisanya mi itu mu tau ka’ padahal dari belakang” balas Rahman dengan raut wajah yang masih tak menyangka bisa bertemu dengan Fatma yang sudah sejak lima tahun terakhir tak pernah ia temui. Mereka kemudian melanjutkan perbincangannya diluar halaman perpustakaan. Dengan saling menanyakan kabar dan perihal keberadaann Wilda di Parepare yang sejak tamat SD pindah ke Makassar melanjutkan sekolahnya. Dilain sisi, Fatma hanya terdiam tanpa kata seuntaian pun. “owh iya... pacar ta gahh itu...?” tanya canda Wilda kepada Rahman, menanyakan soal Fatma yang bersamanya. “owhh... ini, ini namanya Fatma teman sekolahku... kebetulan disini lagi caribuku ka’ buat tambahan belajar untuk UN nanti” jawab Rahman. Mereka kembali mengobrol, karena serunya mereka mengobrol, Rahman seakan lupa dengan Fatma yang ada di sampingnya bahkan lupa dengan niat awalnya datang ke perpustakaan daerah yaitu untuk belajar bersama Fatma. Ia hanya saling memperkenalkan dua wanita yang kini bersamanya. Fatma terlihat cemberut dan masih terdiam ditempatnya, ia seakan tak menerima kehadiran Wilda yang baginya merusak rencana belajar bersamanya dengan Rahman. Fatma pun heran akan apa yang kini ia rasakan, Fatma merasa kesal dan cemburu melihat Rahman dan Wilda yang ngobrol dengan semakin asik saja. Ia untuk pertama kalinya merasakan hal aneh itu di dalam hati. Bagi Fatma rasa itu adalah rasa cemburu akan kehadiran wilda yang sangat tiba-tiba dan tak terduga. Tapi mungkin dilain sudut pandang, yaitu di sisi Rahman, apakah Fatma pernah merasakan kecemburuan Rahman saat menerima Andri di tengah-tengah indahnya persahabatan mereka. Mungkin itulah yang tidak di sadari oleh Fatma selama ini, yang kini sudah dilanda cemburu akan kehadiran Wilda, seorang teman lama yang datang kembali disisi Rahman.
Di sela perbincangan seru antara Rahman dan wilda, Fatma kemudian memotong pembicaraan itu. “tidak dua orang ki’ kepeng keliuss... ada ja juga disini” potong Fatma dengan kesal. “Owh iyahh... tapi tidak di lupa ji kapang...hehehee... bagaimana kalo lanjut ngobrol di caffe ma ki saja...” jawab Rahman dengan canda dan berniat melanjutkan perbincangannya di sebuah caffe. “iyahh cocok mi, kebetulan haus ka’ juga” jawab Wilda dengan riang. “bukannya nda mau ka’...tapi ada mau saya kerja juga dirumah.... lagi pula nda mau ka’ juga ganggu acara reuni ta berdua” sahut Fatma yang semakin kesal saja. “isshhh... ayo mi je’... “ jawab Rahman dan tidak mengiyakan keinginan Fatma untuk pulang terlebih dahulu. “minta maaf ka’... lain kali pi belajar ki’ lagi... atau nanti malam pi saya telphone ki’...” balas Fatma dan bersikeras ingin segera pulang yang sebenarnya di bawa oleh rasa kesalnya kepada Rahman dan Wilda. “iya pale,... tapi telphon ka nanti malam nahh...!!” balas Rahman dengan pinta untuk ditelphone Fatma nanti malam. “iyaahh...” singkat Fatma. “maaf nahh... saya pinjam dulu Rahman” potong Wilda dengan canda. “hehehe... iya” balas Fatma dengan kekesalan yang semakin memuncak. Kemudian Fatma membereskan buku-bukunya kedalam tas dan kemudian beranjak pergi meninggalkan Rahman dan Wilda tanpa pamit sepatah kata pun. Rahman hanya memandangi sahabatnya itu pulang seorang diri dari tempatnya mengobrol dengan Wilda. Selanjutnya Rahman dan Wilda juga beranjak dan lekas pergi dari halaman Perpustakaan dan mencari caffe terdekat untuk melanjutkan ngobrolnya disana.
Rahman dan Wilda semakin asik saja dengan perbincangannya, ternyata Wilda datang ke Parepare untuk menjenguk neneknya yang sedang sakit. Walaupun begitu, Wilda juga mengakui jikalau dirinya juga sebenarnya awalnya berniat menemui Rahman ketika sudah tiba di Parepare. Namun ia tak menyangka akhirnya bisa bertemu secara tiba-tiba di Perpustakaan Daerah saat mereka sama-sama sedang mencari buku.
Dilain sisi, Fatma tiba dirumahnya dengan raut wajah yang masih sama, yaitu kesal dan cemburu. didalam rumah terlihat ayahnya sedang menonton televisi. “kenapa cepat sekali pulang,... selesai mi gah belajarnya..?” tanya Ayahnya, menanyakan perihal cepatnya Fatma pulang yang Ayahnya ketahui ia sedang belajar bersama Rahman di Perpustakaan Daerah. “selesai mi... “ singkat Fatma yang masih saja kesal. Ayahnya hanya terdiam dan melihat putrinya itu berlalu menuju kamarnya.
Fatma terlihat semakin kesal saja. Ia melemparkan tasnya ke atas ranjangnya dan kemudian menghadap cermin dengan kesal dan memaki-maki banyangannya di cermin, yang sebenarnya sedang memaki-maki wilda, tak luput juga Rahman, yang bagi Fatma, Rahman telah melupakan janjinya untuk belajar bersama hanya karena bertemu dengan teman lamanya dan lebih memilih untuk mengobrol dengan teman lamanya itu.
Dimalam hari, Fatma mencoba menghubungi Rahman, seperti pinta Rahman sore tadi. Namun bukannya jawaban telphone yang diterimanya, justru nomor telphone Rahman susah untuk di hubungi. Fatma semakin kesal saja malam itu, bahkan ia menduga-duga perihal nomor Rahman yang tidak Aktif. Pikirnya, mungkin Rahman sedang bersama Wilda dan tak mau di ganggu oleh orang lain sehingga ia menon-aktifkan Handphonenya. Pikiran negatifnya dan kekesalannya terhadap Rahman semakin memuncak, dan kembali memaki-maki Rahman dan berbicara dengan Handphone yang ditangannya.
Ternyata memang benar dugaan Fatma perihal nomor Rahman yang susah dihubungi. Fatma berpikir bahwa nomor Rahman susah dihubungi karena Rahman sedang bersama Wilda dan tidak mau diganggu. Ya memang benar, Rahman dan Wilda kini sedang menikmati kopi hangat disebuah Caffe dipinggiran Pasar Senggol. Rahman dan Wilda seolah reuni semenjak beberapa tahun kemarin tidak pernah bertemu dengan Wilda. Gemerlapnya malam Kota Parepare turut menghiasi pertemuan mereka. Dan dilain sisi Fatma terus saja diselimuti kekesalan dikamarnya.
Malam berlalu sekejap saja, tak mampu dibendung kekesalan dan dugaan-dugaan negatif, Fatma memilih tidur saja untuk menghilangkan dan menenangkan pikirannya itu. Sedang Rahman dan Wilda masih saja di Caffe dan belum berpikir untuk segera pulang. Wilda terlihat sangat menikmati kedekatannya kembali bersama Rahman, Wilda sadar akan rasa sukanya terhadap Rahman yang sudah ada semenjak cinta monyet masa SD dulu, Rahman pun tau hal itu. Hingga tiba dimana situasi yang membuat Rahman seolah dilema, disaat Wilda menuturkan persaannya yang sebenarnya. Sebuah perasaan sayang yang ia pendam sejak masa kecil dulu. Wilda tiba-tiba saja mengatakan itu, membuat Rahman sulit untuk menjawabnya. Rahman sadar akan cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan Fatma. Dilain sisi Wilda juga menyukai Rahman yang sebaliknya Rahman tak mempunyai perasaan spesial sama sekali terhadap Wilda. Malam itu sunyi seketika setelah Wilda mengungkapkan apa yang dirasakan Wilda terhadap Rahman. Rahman tahu itu akan sangat menyakiti hati Wilda jika dia tahu jikalau Rahman hanya mencintai satu gadis saja yaitu Fatma walaupun tak terbalas sekalipun. Ia tahu bahwa hal serupa yang Rahman rasakan akan dirasakan juga Wilda jika ia menolak Wilda yang berkeinginan menjadi kekasih Rahman.
Pikiran yang tak mampu lagi mengotak-atik perasaan itu, akhirnya Rahman memilih untuk tidak menjawab terlebih dahulu apa yang di utarakan Wilda terhadapnya. Rahman kemudian mengajak Wilda untuk pulang, mengingat malam juga sudah mulai menelan mereka berdua. “Minta maaf ka Wilda, belum pa bisa jawab sekarang. Sebaiknya pulang ma ki dulu, dicari ki juga nanti” jelas Rahman kepada Wilda. “iya pale ...” Singkat Wilda dengan senyumnya. Akhirnya Rahman mengantar Wilda pulang ke rumah neneknya yang tak jauh dari tempatnya kini duduk berdua. Diperjalanan pulang mereka hanya berdiam tak berucap sama sekali. Setelah mengantar Wilda pulang kerumah, Rahman pun juga meneruskan perjalanannya untuk pulang kerumahnya dan berpikir kembali tentang apa yang diungkapkan Wilda malam tadi. Sesampai di Rumah ia langsung masuk kekamarnya dan mengambil HP nya yang sedari tadi ia tinggalkan. Setelah mengaktifkan HP nya, puluhan SMS Fatma menyerbu kotak masuk di pesannya. Fatma kecewa Rahman tak menepati janjinya untuk belajar bersama siang tadi dan tak mengaktifkan HP nya kemudian menelphon Fatma. Namun semua itu tidak kemudian menjadi topik utama dalam pikiran Rahman, tapi tetap pada jawaban apa yang kemudian akan di berikan Rahman kepada wilda. Tak pikir panjang Rahman kemudian menelphone seseorang yang ternyata sedang menelphone Wilda untuk memberitahukan apa yang menjadi jawabannya dari tanya yang di berikan Wilda malam tadi di caffe.
Rahman: halo...
Wilda: iya Rahman...
Rahman: lagi apa ki sekarang..?
Wilda: mau ma tidur ini
Rahman: owh.... oh iya.. soal yang tadi, serius betul ki gah..?
Wilda: iya.. tidak papa ji kalau memang tidak bisa ki..
Rahman: mau ja...
Wilda: apa...???
Rahman: iyahh... mau ja jadi pacar ta... gimana..??
Wilda: hehehe.. serius betul ki gahh....
Rahman: iyahh... serius ka..!!
Wilda: hmmm... terima kasih pale nahh...
Rahman: ii,.. iiya... tidur ma ki pale dulu.. besok pi ketemu ki nahh... saya jemput pa ki...
Wilda: iyahh...!??
Rahman dengan pilihannya lebih untuk mengiyakan apa yang di uatarakan Wilda malam tadi. Ia memilih untuk kemudian menjalin kasih dengan Wilda dan mencoba untuk menghapus perasaannya terhadap Fatma yang memang tak terbalas sama sekali.
Cinta Mulai Tumbuh
Hari minggu adalah hari yang begitu membosankan akhir-akhir ini bagi Fatma. Ia mulai bosan jalan dengan Andri, nampaknya kejenuhan itu juga karena rasa yang tak terbaca sudah mulai terasa dihati Fatma.
Tepat jam 8 pagi, Fatma yang sudah melakukan olah raga pagi dan selanjutnya membersihkan tubuhnya terlihat bugar dan makin cantik saja. Kemudian ia menelphone Rahman dan berniat untuk mengajaknya jalan-jalan dihari minggu cerah ini. Fatma kemudian langsung menelphone Rahman, yang ternyata Rahman sedang berada di Rumah nenek Wilda. Begitu pun dengan Fatma. Rahman ternyata juga berniat untuk keluar jalan-jalan bersama dengan Wilda. Dan juga mengingat Wilda juga akan segera kembali ke Makassar setelah beberapa hari ini berada di Parepare, dan memilih untuk absen disekolah demi menjenguk nenek tercinta.
Fatma tak basa-basi lagi, ia langsung mengajak Rahman untuk keluar jalan-jalan bersamanya. Tapi sayangnya Rahman tak bisa mengiyakan karena sudah terlebih dahulu membuat janji dengan Wilda, lagi pula Wilda sudah resmi jadi pacarnya. Yang Fatma belum tahu hal itu.
Mendengar Fatma yang sedikit kecewa setelah meminta dirinya untuk menemani Fatma berjalan-jalan, namun tak ia kabulkan. Akhirnya Rahman yang juga tak bisa membohongi perasaannya bahwa masih sangat menyayangi Fatma, ia kemudian memberitahukan kepada Fatma bahwa dirinya sedang bersama Wilda dan akan keluar juga. Rahman pun mengajak Fatma untuk ikut dan jalan-jalan bertiga bersama dirinya dan Fatma.
Fatma yang semakin kecewa dan kesal, langsung menutup telphone tanpa pamit sepatah kata pun. Dan selang beberapa menit, Fatma kembali menelphone dan meminta Rahman untuk menjempunya juga. Ternyata Fatma yang sedari tadi memendam keksalan dan kecewa terhadap Rahman, hanyalah bentuk kecemburuan Fatma yang belum ia sadari. Ia kemudian mengiyakan pinta Rahman yang mengajaknya untuk berjalan bertiga.
Hari itu adalah hari terakhir Wilda bersama Rahman, selanjutnya ia harus kembali ke Makasaar untuk memfokuskan dirinya juga dalam proses belajar menghadapi UN kedepannya. Mereka bertiga akhirnya memilih untuk berjalan-jalan di sebuah tempat Wisata yang terletak di Kab. Sidrap SulSel. Mereka kemudian berangkat menggunakan Mobil ayah Rahman, dari saat dijemput hingga di perjalanan, Fatma masih kesal saja. Kemesrahan Fatma dan Andri yang membuat Rahman begitu sakit hati kini dibalas dengan kemesrahan yang diperlihatkan oleh Wilda yang disetiap perjalanannya membuat wajah Fatma seakan begitu marah dan kesal. Sesampainya di tempat wisata mereka bertiga kemudian berjalan-jalan dilokasi wisata tersebut. Rahman yang bersajalan diantara dua wanita yang sama-sama ia pedulikan. Tanpa malu dan ragu Wilda dengan sigap menggandeng lengan Rahman yang berada disampingnya. Rahman yang terlihat canggung tak mampu membalas kemesrahan yang ditunjukkan Wilda kepadanya. Ia tak sanggup mengingat cinta sejatinya juga berada disampingnya, yang harapannya hanya ingin menggandeng peremuan itu. Rahman sadar akan apa yang di rasakannya merupakan sebuah kesalahan. Ia bergandeng tangan dengan Wilda namun pikirannya hanya bayang-bayang Fatma yang selalu mengisi, membuatnya kemudian pasrah dan menyerahkannya kepada sang waktu untuk berjalan bagaimanapun adanya.
Fatma semakin kesal saja dengan perbuatan Rahman dan Wilda, membuatnya bertanya-tanya ada hubungan apa sebenarnya antara mereka berdua. Belum habis apa yang dipikirkan Fatma, Wilda kemudian semakin membuat Fatma terpuruk dalam kecemburuannya. “heyy... Fatma..” tegur Wilda. “iya kenapa...?!!” jawab Fatma dengan sedikit jutek dan kesal. “sudah ma ki gah na tanya Rahman kalo tadi malam jadian ka...???” jelas Wilda yang seolah ingin memanas-manasi Fatma.  

    
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar