MATAHARI DAN KAKI-KAKI TELANJANG
Karya: AR. Ammank
Matahari di langit Jakarta
diam menatap dibalik mendung.
dibawahnya ada
sosok-sosok pengkelana
yang terpaksa menjadi pemulung
karena hidup yang tak beruntung
diam menatap dibalik mendung.
dibawahnya ada
sosok-sosok pengkelana
yang terpaksa menjadi pemulung
karena hidup yang tak beruntung
pergi saja ! kata bapak tua,
kemudian ia merayap dari kumuh ke kumuh.
mencari penghidupan untuk besok yang menunggu
kemudian ia merayap dari kumuh ke kumuh.
mencari penghidupan untuk besok yang menunggu
Husshh ! ibu tua mengusir.
kasihan, ia lalu merayap kembali keluar.
seperti kemarin ia merayap diantara kota yang liar
kasihan, ia lalu merayap kembali keluar.
seperti kemarin ia merayap diantara kota yang liar
Matahari Jakarta
hanya menatap sombong dari ketinggian
tak mampu memberi pengharapan
walau pun hanya sekedar pencerahan
hanya menatap sombong dari ketinggian
tak mampu memberi pengharapan
walau pun hanya sekedar pencerahan
Matahari Jakarta
sama sombongnya dengan Bapak tua
dan sama angkuhnya dengan Ibu tua
sama sombongnya dengan Bapak tua
dan sama angkuhnya dengan Ibu tua
bahkan sampai gelap menyapu
kaki-kaki telanjang masih menunggu
kaki-kaki telanjang masih menunggu
siang tadi juga tak mendapat
pengampunan dari matahari
bahkan sampai esok pun
ia masih akan di sambut
keangkuhan mentari dan bapak, ibu tua
dan begitulah seterusnya
pengampunan dari matahari
bahkan sampai esok pun
ia masih akan di sambut
keangkuhan mentari dan bapak, ibu tua
dan begitulah seterusnya
Halte Utan Kayu Rawamangun, Jakarta Timur 26 April 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar