Berkaca pada sebuah rentetan waktu yang telah terlewatkan,
mencoba mengupas kembali kenangan yang jua bersisi kelam,
namun itulah lembaran yang harus kita buka
di sela waktu yang kita lalui sekarang
demi suatu mimpi yang akan kita ukir
di lembara-lembaran kosong berikutnya.
mencoba mengupas kembali kenangan yang jua bersisi kelam,
namun itulah lembaran yang harus kita buka
di sela waktu yang kita lalui sekarang
demi suatu mimpi yang akan kita ukir
di lembara-lembaran kosong berikutnya.
aku dan kamu masih sama seperti dahulu.
masih saja menopang dagu
dan bertanya “akan kah dunia mengisi genggaman ?”
masih saja menopang dagu
dan bertanya “akan kah dunia mengisi genggaman ?”
Buka saja lembarannya walau tak berhalaman
kemudian kau urai tanpa tangis buah kenangan
akan kau dapati sepenggal kisah menyedihkan,
memalukan, namun jua penuh tawa dan tantangan
kemudian kau urai tanpa tangis buah kenangan
akan kau dapati sepenggal kisah menyedihkan,
memalukan, namun jua penuh tawa dan tantangan
nyatanya, sekarang kita berkisah di lembaran yang berbedajarak dan waktu tak menjadi penanda halaman
untuk kita menyatukan kembali lembaran-lembaran
kisahmu dan kisahku dalam satu buku.
karena ketika malam menghampirimu kawan lamaku,
Pandangilah bulannya walau didalam waktu yang tak bertemu
dan yakinlah, di saat itu kisahmu kembali menyatu denganku
walaupun hanya dengan selembar kertas saja.
Pandangilah bulannya walau didalam waktu yang tak bertemu
dan yakinlah, di saat itu kisahmu kembali menyatu denganku
walaupun hanya dengan selembar kertas saja.
Salam Rindu, Teman Lamamu. Mammang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar