Karya: AR. Ame’
Disini, tempatku merangkai kata
menutur menjadi sebuah cerita
menutur menjadi sebuah cerita
Rindumu ku semai dalam nafasku
menyulam jantung berdua menjadi satu
memori-memori usang pun mengadu
terselip dalam rasa yang kau namai rindu
menyulam jantung berdua menjadi satu
memori-memori usang pun mengadu
terselip dalam rasa yang kau namai rindu
Jika esok mentari masih di tempatnya
pastikan bulan juga di satu sisi ada
pastikan bulan juga di satu sisi ada
Tapi jika esok melati mulai layu
mungkin tak kutunggu lagi mekarnya yang utuh
sebab aku jauh tertinggal waktu
dan kau pun sama sepertiku
mungkin tak kutunggu lagi mekarnya yang utuh
sebab aku jauh tertinggal waktu
dan kau pun sama sepertiku
Jangan menantiku jika tak mampu, sayangku.
Getar kerinduan masih menyayat sukmaku
memang benar karena kau masih menantiku
pabila esok kau pun lelah menopang rindumu
lekas pergi ! dan jangan mematung di persimpangan jalan itu
memang benar karena kau masih menantiku
pabila esok kau pun lelah menopang rindumu
lekas pergi ! dan jangan mematung di persimpangan jalan itu
Dan jika benar itu yang kau ikhwalkan
maka sampai mati pun Aku tak akan pulang.
maka sampai mati pun Aku tak akan pulang.
Jakarta, 05 Mei 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar