DASAR-DASAR MITOLOGI LHANA JHOLY
oleh: Amerialdi Said, SF. MM. Ph.D
PENDAHULUAN
Dalam
tulisan sebelumnya saya sudah mengurai sebuah disertasi singkat mengenai dasar
pemikiran empat Filsuf yang berpengaruh dalam bidang keilmuan Mistisisme, Theologi dan Medis/kedokteran yaitu Hariska Kasim,
Haerul Ghaibi, Sulamang El Fuadi, dan Miftahuddin Bhitokantrophus. Sekarang ini saya mencoba mengurai
lebih jelas kembali sebuah pemikiran baru dalam bidang keilmuan Mitologi atau Mitos yang diprakarsai oleh seorang filsuf India Lhana Jholy yang kini melakukan
penilitian di Kota Haralki untuk menyimpulkan Thesis barunya dalam bidang yang
sama.
Mitologi
yang kita pahami saat ini merupakan adaptasi dari paradigma terdahulu yang
kemudian dikembangkan secara terus-menerus dari generasi re-generasi. Paham
mitologi acapkali mencadi sebuah topic perdebatan di kalangan filsuf,
cendekiawan, hingga mahasiswa dan bahkan sampai kepada anak-anak SD.
Secara bahasa, Mitologi berasal dari
bahasa Yunani Kuno namun ada juga yang mengatakan berasal atau dikembangkan
dari Bahasa hingga pemikiran Haralki Kuno yaitu Pa’dewatan/kapimalian. Mitologi terbagi atas dua kata yaitu Mitos
dan Logos. Yang kemudian diartikan sebagai ilmu atau paham tentang kapimalian
atau hukum leluhur. kemudian secara istilah, Mitos yang berarti paradigma yang
masih digunakan yang hakekatnya bersumber atau diadaptasi dari
paradigma/kebiasaan/tradisi leluhur suatu daerah atau suku bangsa.
Selanjutnya beberapa pengertian
tentang Mitos atau Mitologi telah diberikan oleh beberapa filsuf dunia maupun
Lokal/domestic. Diantaranya menurut;
a.
Prof.
Dr. Suriadi Hendra Syarif, SF. (Adi Codon):
Mitologi
merupakan paham yang berasal dari suatu daerah yang kaya akan perpaduan
kulturnya yang kini disebut sebagai Kota Haralki. Mitologi merupakan
larangan-larangan, aturan atau hukum yang dibuat oleh leluhur Haralki yang kini
dikembangkan atau masih di percayai oleh keturunannya (Bijanna).
b.
Nasriah
Abu Dajjal (Guru Besar Universitas Kandang Biru, Iran) :
Nasriah
Abu Dajjal mengungkapkan pengertian Mitologi sebagai paham Kapimaliran yang berarti
Acuan atau hukum bagi para leluhur Haralki yang kemudian masih dipercayai oleh
anak keturunanya sampai hari ini.
c.
Hariska
Kasim (Ibu/tokoh besar Kasimisme) :
Filsuf
yang berpengaruh dalam bidang mistis ini mengatakan bahwa, Mitologi yang masih
ada atau masih sering dijadikan hukum bagi masyarakat umum terbilang Mitologi
yang berbau Mistis, atau kepercayaan akan larangan oleh leluhur terdahulu yang di
dasari atas pengaruh dari hal-hal Gaib. Sehingga hukum atau acuan ini kemudian
mulai di yakini, dijalankan, hingga dikembangkan.
d.
Che
Ndank Dos Santos (Pakar Ilmu Sosial Budaya) :
Filsuf
asal Amerika Latien ini pernah melakukan penelitiannya di Kota haralki,
kemudian memberikan pengertian tentang Paham Mitologi yang masih berkembang di
kota Haralki. Ia mengatakan bahwa, Mitologi atau Mitos atau Kapimalian adalah
warisan luluhur yang berupa paham atau keyakinan akan sebuah larangan atau
aturan yang mengacu pada sosiologi atau sosial budaya.
e.
Miftahuddin
Bhitokantrophus (Filsuf Materialis Haralki) :
Dalam
buku bapak Bhitokanisme ini, pernah
mengatakan bahwa Mitologi merupakan
paham Tua yang sampai hari ini menyesatkan umat manusia. Paham tua atau
mitologi merupakan hukum yang dibuat dalam bentuk larangan yang harus ditaati
dalam sebuah kelompok atau suku dahulu kala. Namun ia tak menafikkan adanya
beberapa kepercayaan atau larangan yang merupakan paham mitologi benar adanya
namun bukan karena hal-hal Gaib yang mempengaruhinya tapi melainkan ada hal-hal
yang bersifat materil disekelilingnya yang kemudian menjadi faktor baginya
untuk berdialektika. Contoh kasus misalnya; kita
tidak boleh bernyanyi pada saat memasak atau menanak nasi, bukan berarti ada
hal-hal gaib, namun semua itu di karenakan oleh ketakutan akan nasi yang di
masak akan Meput.
Selanjutnya
mari kita mengkaji dasar pemikiran Lhana Jholy tentang paham Mitologi yang
kemudian disinambungkan dengan gejala-gejala sosial yang ada pada hari ini.
B.
Riwayat
Hidup Lhana Jholy
Lhana
Jholy lahir dan tumbuh besar di kota Salengkeng, Bagian barat India. Ia besar
dari keluarga yang memegang teguh paham Mitologi yang selanjutnya menjadikan
dirinya sebagai salah-satu pakar atau ahli dalam bidang tersebut. Lhana Jholy
kemudian menjadi mahasiswa di salah-satu Universitas Swasta di India Salengkeng University, kemudian pada
tahun 1976 ia pindah ke Haralki dan menyelesaikan gelar doktornya disana.
Di
Haralki ia kemudian kuliah di Haralki
University dan bertemu dengan salah saorang filsuf terkemuka dalam bidang
Mitologi yaitu Prof. Dr. Misbahuddin
Faturraziah yang juga merupakan dosen Filsafatnya. Ia semakin memperkuat
pemahamannya tentang Mitologi dan mencoba melahirkan thesis-thesisnya dalam
bidang tersebut.
Selama
menjadi mahasiswa, ia bergabung dan melakukan kajian dan diskusi di salah-satu
kelompok belajar Kaum Mitologi Haralki dan
dari situlah perspektifnya tentang Mitologi mulai lahir dan kemudian dibukukan
pada tahun 1978 dengan tiga jilid yang berjudul Haralki dan Mitologi.
C.
Dasar
Pemikiran Lhana Jholy
Bagi
Lhana Jholy Mitologi adalah salah-satu bagian hidup yang harus tetap di jaga
dan dilestarikan, karena juga merupakan warisan budaya dari para leluhur.
Lhana
Jholy berkesimpulan bahwa Mitologi yang hari ini masih sering kita dapati
termasuk Mitologi yang sudah usang atau tidak sesuai lagi dengan makna
sebenarnya dan bahkan banyak sekali generasi hari ini yang tidak lagi meyakini
akan kesakralan dari warisan leluhur itu.
Mitologi
sendiri bagi Lhana Jholy dibaginya dalam dua Aspek kehidupan, antara lain;
a.
Mitos Garis lembut:
Mitos garis lembut artinya mitos atau pahaman
tentang aturan yang masih terbilang lembut dan terkadang di dapati dari
kesalahan-kesalahan atau peristiwa-peristiwa langka (jarang terjadi) yang tidak
disengaja. Mitos ini sering tersirat dari anak-anak jaman sekarang.
b.
Mitos Garis Keras:
Mitos garis keras ialah, mitos yang sampai
hari ini masih di yakini atau dipahami oleh orang tua atau pemangku adat. Mitos
semacam ini sangat di pegang teguh dan apabila terjadi pelanggaran atau
kejadian yang kemudian terdapat dalil atau aturan yang mengenainya, maka dengan
penuh kepercayaan seseorang itu akan ditimpa hal-hal yang tidak terduga. Bisa
jadi musibah atau semacamnya.
Lhana
Jholy sampai hari ini masih memegang teguh keyakinan akan mitos yang di adaptasi
dari para leluhur Haralki maupun leluhurnya di Salengkeng, India. Walaupun
mendapat kritikan dari salah-satu filsuf Biologi yang mengatakan bahwa dirinya
merupakan ilmuan yang membudidayakan sebuah paham sesat atau paham tua yang
seharusnya tidak lagi menjadi acuan. Namun bagi Lhana Jholy, mitologi yang pada
zaman ini dikembangkannya merupakan pahaman yang memang seharusnya dijaga
keasliannya. Dan tetap diyakini sebagai aturan atau hukum dari para leluhur.
Mitologi yang dibawa oleh Lhana
Jholy merupakan paham yang telah dikembangkannya mulai dari nilai sampai pada
tataran sebabakibat dari sebuah dalil atau aturan yang bersifat Mitologi atau
Mitos.
Lhana Jholy berharap semoga
kedepannya paham ini masih bisa di jadikan acuan untuk berperilaku dan bertindak
bagi para manusia-manusia zaman Kapital ini. Dan mampu membrikan hakekat
pemaknaan yang tidak disalah artikan lagi.
Keterangan: Tulisan ini mengandung “Perheleman” yang hanya
berasumsi fiksi dan bertujuan menjadi bacaan yang mengundang tawa pembaca. :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar