Paras Lugu di Balik Toak - Ngemper

Google Image
Aku dan mereka memulai pagi
Sorak seru dan nyanyian berganti
Aku berjalan diantara ramai
Yang di atasnya tertawa sombong mentari
Hari semakin tua
panas pun semakin terasa
sepasang kaki ke arah yang sama
dengan seruan dan mimpi yang sama pula
Seruan merdu dengan ketegasan
menghentak jiwa barisan kerumunan
ia menyerukan derita dan tangisan
ia ceritakan kekejaman dengan teriakan
ia bahasakan kejenuhan dengan kemarahan
dan harapannya dilafalkan dengan 1001 tuntutan
Aku berdiri tepat di depannya
keringat dan air mata
menyatu melalui garis-garis pipinya
Lengan kirinya meninju terik mentari
sesekali menggenggam harap dengan rintih
Engkaulah paras lugu dibalik Toak merah
Seakan tiada dapat
Aku menunduk mendustai pandangan
tiada sekalipun kedipan
karena ku takut menyisakan keindahan

Abd. Rachman
Jakarta, 17 Februari 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar