Sayapku memang telah patah, tapi tak menjadi alasan ku akan menahanmu
untuk terbang lebih tinggi — itu yang terfikir hari itu saat ku tahu
kau memilih yang lain, bukan tak mencintaimu untuk tak menahan pergimu
apatalagi melontarkan ketaksetujuanku saat itu . Tapi jauh sebelum itu,
ku cukup tahu diri bahwa tak ada hal istimewa dariku untuk harus
dipertahankan. Maka ketika kau pergi, ku hanya diam dalam bisuku, dalam
pedihnya perasaanku.
Sayapku memang tak lagi mampu mengepak, tapi
tak menjadi alasan ku akan memintamu berjalan bersamaku lantas kau tak
lagi mengangkasa — Itu yang terfikir hari itu saat kau mengatakan telah
memilih hati yang lain, bukan tak mencintaimu untuk tak memaksamu
memilihku saja. Tapi jauh sebelum itu, ku cukup tahu diri bahwa aku tak
pernah cukup bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Maka ketika kau tak lagi
untukku, ku hanya nanar dalam kekosonganku, dalam lukanya asaku. Tapi
usah cemaskanku, patah sayapku mungkin tak mampu membuatku terbang
menujumu, tapi jauh di bawah sini doaku selalu melangit untuk
kebahagianmu. karena tak lagi penting apakah suatu saat ku bisa kembali
terbang bersamamu atau tidak, hanya ku ingin kau tetap terbang walau tak
lagi denganku.
Pun usah cemaskan atas patahnya sayapku, karena
kau tahu? untuk mencintaimu dengan atau tanpa sayap pun aku bisa
melakukannya. Mungkin kau lupa, sebelum kau beriku sayap, jauh
sebelumnya aku telah mencintaimu, dan itu cukup untuk menjelaskan
mengapa aku mampu mencintaimu, bahkan ketika kau tak lagi memilihku.
Aku
baik-baik saja dan akan baik-baik saja, selama ku bisa menatapmu dalam
doaku. Bahagiamu, bahagiaku — maka ku mohon untuk satu hal itu
kabulakanlah untukku — Jikapun kau melihat air mataku atau kesakitan di
rasaku, tenanglah itu hanya rindu yang kadang lebih kuat dari tegarku.
Dan
tentang ku hindarimu, semoga tak pernah terfikir olehmu bahwa itu
karena kebencian. Tentu saja itu tak mungkin, aku hanya terlalu malu
bahwa begitu lama ku tak menyadari sayap yang tak lagi untukku, ku paksa
menerbangkanku untuk berada di sisimu. Maafkan aku, untuk tak
menyadarinya, menyadari begitu lama memaksamu mencintaku..
***Hingga
di detik ini, cintaku masih sama bahkan mungkin bertambah, sayangnya
satu sayap takkan mampu menerbangkanku. Rinduku pun tetap sama, bahkan
perihal sapaan “hari ini” yang meski hanya kebetulan belaka, masih mampu
mendetakkan jantungku sama setiap kau menyapaku diwaktu lalu, namun
jujur aku takkan mampu dengan kekebetulan apapun itu. Aku tak bisa, di
sisimu lantas tak menjadi sesiapa, aku tak bisa.–
Jika saja boleh
meminta, untuk takdirku. Bagiku tak mengapa jika kau bukan untukku —
asal kau selalu bahagia — dan asal di cabut satu hal dariku — “rindu” —
itu saja :’)
Oleh : Joanne

Tidak ada komentar:
Posting Komentar