NEGERI IMPIAN - Ngemper

NEGERI IMPIAN

Share This

NEGERI IMPIAN
Karya: AR. Ame'

Berawal dari Kajemba
Jika Patah hati membekaskan luka, maka Mendung menyisakan rintik yang perdetik terus saja menggelitik. Hujan sudah redah dan hembusan angin laut selatan sudah berlalu, namun dinginnya Kaola masih saja memaksa para penghuninya untuk bersimpul lengan. Tapi tidak bagi petualang penuh impian yang kini tengah menyusuri sudut-sudut belantara yang masih berembun.
Bunga-bunga setapak terlihat mekar disepanjang jalan menuju Puncak Kajemba. Taming, Ichal, dan Bundung sesekali bersiul diperhentian dan memuji indahnya ciptaan Tuhan sore itu kala menuju puncak kajemba.
“indahnya tanahku....” puji Bundung dengan usapan dada helaan nafas. “tapi lebih indah lagi kalau tanah ini tak berpenghuni para bedebah“ sahut Ichal dengan sedikit kesal akan berbagai macam masalah yang kini melanda negerinya. Kenikmatan belantara akan berganti diskusi ilmiah para petualang, jika Bundung balas menjawab celoteh dari Ichal tadi. Walau sebenarnya apa yang di Katakan Ichal bukan hanya sekedar celoteh, tapi itulah kenyataannya.
Perjalanan berlanjut, hijaunya rerumputan masih terlihat segar dengan cucuran air didedaunan bekas hujan siang tadi. Langkah demi langkah terayuh, pujian demi pujian terucap, walau sesekali helaan nafas letih dan lelah sering berbisik dari mulut Ichal yang nampaknya sudah mulai lelah menyusuri setapak terjal sepanjang jalannya. Sesekali ia berhenti, membungkuk menopang tubuhnya dengan memegang kedua lututnya dan mengatur nafas yang sudah mulai kelelahan. Namun bagi petualang penuh impian (begitu mereka menyebutnya) lelah dan letih bukanlah sebuah penghalang untuknya sampai ke tujuan sebenarnya. Mereka meyakini jikalau usaha untuk sebuah keberhasilan adalah proses yang tak mudah dan sederhana untuk dilalui. Bagi mereka, semua kelelahan itu akan terbayar dengan keindahan yang terlihat dari puncak Kajemba. Lagupula hanya tinggal beberapa langkah lagi hingga tiba di tempat dimana keindahan Alam dipertontonkan, dimana ukiran semesta berkisah.
Akhirnya mereka tiba tepat di Puncak Kajemba, harapan terjawab, dan lelah benar terbayar. Keindahan dari puncak Kajemba begitu mempesona, pesonanya semakin menggugah tak kala embun sore terukir di sekeliling pepohonan dan keributan penghuni belantara menjadi instrumen pengiring drama sore itu, membuat keindahannya semakin indah menghempas jiwa yang tergugah.
Tak pikir panjang, pujian pun kembali tersirat. “ternyata tanahku memang benar-benar indah mempesona” ucap Bundung. “lebih indah lagi kalau penghuninya mulai sadar akan keindahannya dan mulai membangun negerinya sendiri tanpa orang asing yang justru membawa kesesatan dan merampas keindahan ini” celoteh kembali terucap dari mulut Ichal sebagai sahutan atas pujian dari Bundung.
Taming kemudian berjalan ketepian, menopang tubuhnya di sebuah pohon Langsat yang sudah berbuah sebesar kelereng, seolah ia tak mau menyisakan keindahan yang sudah di depan mata. Ichal dan Bundung kemudian ketempat dimana Taming kini berdiri. Senyap membisu tanpa untaian kata dari tiga petualang ini, belum lagi terang yang sudah mulai tersapu gelap. Selang beberapa menit, Taming kemudian menghapus kesenyapan itu. “Aku ingin hidup di Sebuah negeri yang tak lagi menyisakan Sekte atau pengkotakan didalamnya” sahut Taming, “memangnya ada negeri seperti itu ?” balas sahut Bundung. “jelas ada ! di negeri itu tidak ada lagi keserakahan yang membuat manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dimilikinya, bahkan manusia yang cenderung menomorduakan kebutuhan primer dan memprioritaskan kebutuhan sekunder” jawab Taming, “wahh…. Kalau seperti itu kenapa orang-orang lebih senang menghuni negeri yang justru bertolak belakang dengan negeri yang kau maksud itu ming….?” Tanya Bundung, Ichal yang sedari tadi berdiam diri, kemudian memotong “bukannya mereka senang dengan negeri saat ini dan tidak mau dengan negeri seperti yang digambarkan Taming” sahut Ichal, “terus kenapa…?” potong Bundung yang semakin penasaran dengan apa yang di gambarkan Taming dan dimaksudkan ichal. “ada sebahagian orang yang sengaja mempertahankan kondisi negeri yang kita huni hari ini, dengan berbagai macam cara mereka lakukan agar orang-orang yang lainnya (seperti kita ini) tidak memikirkan tentang negeri yang lebih baik lagi, dan karena itu jugalah sehingga orang seakan tidak tahu jikalau ada negeri yang mampu mengubah peradaban menjadi lebih baik lagi”jawab Ichal, “memangnya siapa orang-orang itu chal…?” Tanya Bundung semakin penasaran.“akan panjang jika harus di jelaskan secara diteail bundung !” jawab Ichal. “sudah…sudah… lain kali kita bicarakan soal negeri impian itu, sekarang sudah mulai gelap ayo kita pulang !” potong Taming dan mengajak kedua temannya untuk segera pulang, karena melihat hari yang sudah mulai gelap.
Di perjalanan pulang, lebih tepatnya perjalanan turun dari gunung kajemba, Bundung terlihat masih penasaran dengan apa yang dimaksudkan Taming dan Ichal tentang negeri impian. Bundung seolah menyimpan ribuan Tanya menyerbu yang harus segera dijawab.
“Chayya A’lassholah…. Chayya A’lassholah….” Adzan Maghrib mulai berkumandang, waktunya para pekerja meninggalkan pekerjaannya dan segera berserah diri kepada Penciptanya. Taming, Ichal dan Bundung tiba dirumah masing-masing, berbeda dengan Taming dan Ichal yang sudah terbiasa pulang agak kesorean, Bundung justru mendapat omelan dari Orang tuanya karena keterlambatannya pulang kerumah. “kamu darimana saja ?! jam segini baru pulang !!” Ayah Bundung menghadang saat Bundung mulai masuk kerumah, “dari rumah teman pa….” Jawab Bundung dengan kepala yang tertunduk.“Mulai besok tidak ada lagi kata terlambat pulang !!pokoknya jam empat sore kamu sudah harus di rumah !!” perintah Ayahnya, “iyahh pak…” jawab Bundung. “yahh sudah, sekarang kamu mandi kemudian Sholat !” perintah lagi ayahnya. “iya…” singkat Bundung kemudian lekas beranjak kekamarnya.
Keluarga Bundung memang termasuk keluarga yang terpandang dikampungnya.Ayahnya seakan melarang Bundung untuk banyak beraktifitas diluar rumah dan tidak banyak bergaul dengan anak-anak kampung lainnya. Bundung memang berbeda dari kedua Sahabatnya Taming dan Ichal, Bundung di sekolahkan oleh orang tuanya di sekolah elit yang terdapat di Kota, sedang Taming dan Ichal hanya mengenyam pendidikan di sebuah pesantren yang berdiri kokoh tak jauh dari rumah mereka, atau lebih tepatnya juga bertempat dikampungnya. Jika Bundung harus menggunakan motor atau kendaraan/angkutan umum untuk sampai ke sekolahnya, maka Taming dan Ichal hanya cukup berjalan kaki jika hendak berangkat ke sekolah.
Kajemba merupakan salah-satu gunung yang terletak di kampung Taming, Ichal dan Bundung yaitu Kanang, Desa Batetangnga. Desa Batetangnga terletak dipinggiran Kota Polewali Sulawesi Barat. Batetangnga merupakan Desa yang cukup terkenal di Kota Polewali, akan berbagai macam tempat wisatanya dan berbagai macam buah-buahan yang dihasilkan disana. Riuh pikuk serta gemerlap Desa Batetangnga yang berpenghuni kisaran 5000 jiwa, akan lebih indah terlihat dimalam hari dan itu ketika disaksikan dari Puncak Kajemba. Namun sayang tiga petualang tak bisa menikmati keindahan itu. Bukan hanya karena pesonanya yang terpancar dimalam hari, tapi juga karena orang tua dari ketiga petualang itu takan pernah memberikan izin untuk bepergian dimalam hari.
Sekarang musim hujan memang sudah mendapat jatah untuk menyapa. Dinginnya Batetangnga pun semakin terasa dimalam hari. Di sebuah warung kecil disudut desa, Taming terlihat sedang menikmati segelas kopi hitam hangat. Taming terlihat sedang menunggu seseorang, pastinya bukan seorang kekasih tapi jelas kedua sahabatnya Ichal dan Bundung. Taming memang berbeda dengan teman sekolahnya yang lain atau teman-teman sebayanya, ia termasuk siswa yang tidak terlalu suka berbicara soal romantika. Walaupun tak diizinkan untuk menikmati keindahan desanya dari atas kajemba dimalam hari, tapi mereka bersyukur masih di berikan izin untuk keluar malam walau tetap dengan waktu yang terbatas.
Selang beberapa menit, Ichal kemudian datang juga diwarung itu. “kenapa lama sekali sih chal..? saya sudah dari tadi nih nungguin kamu !,” Tanya Taming. “sorry coy.. dirumah saya disuruh jaga Adik makanya jam segini baru bisa keluar rumah, itupun karena bapakku juga gak ada dirumah jadi bisa bebas keluar” jawab Ichal. “owh,.. gitu, terus Bundung nya mana ?” Tanya lagi Taming. Ichal hanya menggeleng kepala sebagai isyarat tak tahu bagaimana dengan Bundung. Mereka memang sudah menjadikan rutinitas dimalam hari untuk nongkrong di sebuah warung kecil milik Bu’ Salma, begitu mereka memanggilnya.
Berbeda dengan teman-teman sebayanya dikampungnya. Jika Taming dan Ichal bertemu, memang bukanlah canda tawa atau saling menjaili yang terlihat dari mereka berdua. Justru diskusi dan saling bertukar pikiran lah yang mereka lakukan. “menurut kamu apa sih yang dimaksud dengan Sekolah itu pembodohan ? bisa gak Ming kamu kasi pencerahan dulu ?” Tanya Ichal dengan sesekali meminum Kopinya yang sudah ia pesan dari Bu’ Salma. “gini Chal,… sebenarnya akan makan banyak waktu dan diskusi panjang untuk menjawab pertanyaanmu itu. Tapi ku usahakan untuk menjawabnya dengan singkat tapi jelas dan kamu mudah pahami” jawab Taming yang kemudian Ichal langsung memotong. “iyah gak papa,… jelasin ajah yang kamu tahu” sahut Ichal. “sebenarnya gini Chal… pendidikan menurut Paulo Freire adalah merupakan proses untuk memanusiakan manusia, maksudnya ialah manusia yang mampu menggunakan ketiga komposisinya yaitu Jasmani, Rohani dan Akal dengan sejalan dan mengarah ke hal positif. Tapi kenyataannya hari ini ketika melihat dari bagaimana sistem pendidikan di setiap lembaga pendidikan sama sekali tidak menunjukkan hal seperti yang dimaksudkan Mr. Paulo tadi. Mulai dari Kurikulum sampai pada persoalan regulasi dari kemendikbud dan juga di setiap lembaga pendidikan atau sekolah. Kemudian salah satu tujuan Negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang termaktub di dalam UUD 45, tapi bagaimana kemudian mencerdaskan kehidupan bangsa secara menyeluruh jika pendidikan masih menyisakan diskriminasi didalamnya dan bahkan yang bisa bersekolah hanya yang berkantong tebal saja. Sebenarnya jangan salahkan pendidikannya, tapi sistemnya yang mengatur dan menjadi kemudi kemana arah pendidikan di Indonesia. Gitu Chal… walaupun sebenarnya masih panjang sih kalau kita mau membahas soal pendidikan di Indonesia”jelas taming. Ditengah diskusi Taming dan Ichal, tiba datang juga Bundung dengan tergesah-gesah dan nafas yang tak teratur seperti sedang dikejar oleh seseorang. “Sorry Ming… Sorry Chal.. aku terlambat datang.” Bundung dengan Nafas yang masih memacu. “gak papa Dung… justru saya berpikir kalau kamu gak bakalan keluar malam ini” jawab Taming. “ya sebenarnya aku memang dilarang keluar sama mama papa, tapi saat papa ku nonton dan mama ku masih beres-beres didapur, aku langsung ambil kesempatan untuk keluar, mereka palingan berpikir kalau aku sedang dikamar” jelas Bundung. “wahh… kamu nekad juga yah,… kalau ketahuan gimana ?” Tanya Ichal. “yah.. kalau soal itu, belakangan ajah baru dipikirin hehehee..” jawab Bundung dengan tertawa. Tiga petualang sudah berkumpul, diskusi pun kembali dilanjutkan, walaupun dengan tawa dan canda yang kini mengalir didalamnya.
Rerumputan terlihat berserakan di halaman sekolah Tepatnya di Pondok Pesantren Al-Ihsan DDI Kanang tempat taming dan Ichal kini mengenyam pendidikan. Walaupun pendidikan seakan semakin pelit saja disetiap harinya, tapi beruntung Taming dan Ichal masih bisa bersekolah hingga kini mereka sudah duduk di bangku kelas dua SMA. Didalam kelas Taming terlihat sedang fokus membaca sebuah Novel Karya Pramudya Ananta Toer. Berbeda dengan Taming, Ichal justru sedang bercanda tawa dengan teman-teman perempuannya disudut kelas. Ichal memang terkenal lihai dalam hal mendekati perempuan. Terbukti dari banyaknya mantan pacar yang tersebar di beberapa kelas dan bahkan di sekolah lain. Tapi bagi ichal, itu bukanlah sebuah prestasi yang patut di banggakan. Makanya ia tetap mengimbanginya dengan tetap giat belajar. Terbukti bahwa ichal juga merupakan salah-satu siswa cerdas yang dimiliki sekolahnya. Ichal pun tak pernah tergeser dari tiga besar peringkat dikelasnya, walaupun taming yang selalu diatasnya. Ichal tidak hanya menganggap Taming sebagai sahabatnya, tapi juga sebagai Kiblatnya dalam hal pembelajaran. Kepandaian Taming dalam membahas Ilmu Sosial menjadi daya tariknya tersendiri sehingga dijadikan guru bagi Ichal.
Lain halnya dengan Taming dan Ichal, lain pula dengan Bundung. Sebuah sekolah bertingkat, dengan bangunan megah dan pekarangan luas berhiasi bunga-bunga mekar diantaranya. Bundung terlihat sedang berdiam diri disebuah tempat duduk didepan kelasnya. Bundung sekolah di SMAN 01 Polewali. Ia kini duduk dibangku kelas dua  SMA. Dari jauh Bundung terlihat murung dengan keadaan sekolah yang tak begitu mampu membuatnya lebih riang. Bukan karena tak punya teman sama-sekali, tapi baginya tak ada teman disekolahnya yang seperti dengan Taming dan Ichal. Selama bersekolah di SMAN 01 Polewali, Bundung hanya menghabiskan waktunya dengan berdiam diri dan tak banyak aktifitas.
“Ting... Tong...!!!” bel berbunyi sebagai tanda pelajaran selanjutnya segera dimulai dan waktu istirahat pun berakhir. Bundung kemudian masuk ke kelas untuk menerima pelajaran selanjutnya. Didalam kelas Bundung terus saja dengan wajah murungnya. Sebelum mengakhiri pelajaran dan kemudian pulang kerumah masing-masing guru yang mengajar di kelas Bundung memberikan Pekerjaan Rumah untuk di kerjakan siswa-siswinya di rumah dan kemudian dikumpul minggu depan.
Bundung kini duduk di sebuah Halte bus tepat di depan sekolahnya, ia sedang menunggu bus sekolah yang tiap harinya mengantar dan menjemput anak-anak sekolah mulai dari SD sampai SMA. Namun karena pelajaran terakhir tadi cukup lama, membuat Bundung harus menumpangi Angkutan umum atau yang di Kota Polewali di kenal sebagai Pete’-pete’, karena Bus sekolah sudah pergi dan melewati sekolahnya.
Anak-anak sekolah lainnya terlihat sibuk dengan dirinya masing-masing, Bundung hanya duduk diam dan sesekali melirik kekanan dan kekiri berharap Angkutan Umum segera tiba menjemputnya. Kurikulum disetiap pemimpin negara pastinya berubah, begitu pun dengan saat ini yang tengah di pimpin oleh presiden yang baru. Kesibukan disekolah di tambah dan waktu belajar di sekolah pun di tambah. Membuat Bundung pulang agak kesorean. Sore itu langit sudah mulai mendung namun mobil angkutan umum belum juga datang dan singgah tepat di depan Halte tempat kini Bundung dan anak-anak sekolah lainnya tengah menanti. Selang beberapa menit hujan pun turun membasahi Kota Polewali yang panas serta Polusinya sudah mirip dengan Kota Metropolitan Jakarta. Hujan yang menjatuhi trotoar jalan memantul ke kaki bundung dan teman-temannya membuat sepatuh Bundung dan teman-temannya basah karena air Hujan itu. Tidak lama kemudian mobil angkutan umum berwarnah merah singgah di depan halte bundung dan teman-temannya pun naik dan segera pulang.
Mobil yang Bundung tumpangi itu sudah membawa penunmpang lainnya yang searah dengan tujuan Bundung. Mereka adalah mahasiswa yang tengah sibuk membicarakan soal Aksi yang akan dilakukannya besok. Baru-baru ini presiden yang baru langsung menghadiai Rakyatnya dengan harga BBM yang dinaikkan. Membuat mahasiswa dan aktivis-aktivis diseluruh Indonesia serentak turun kejalan untuk melakukan aksi penolakan kebijakan tersebut. Bundung hanya terdiam mendengarkan perbincangan tiga Mahasiswa itu.
Bundung tiba di rumahnya dan hujan pun sudah redah. Namun bukan berarti Bundung dengan leluaa bisa ke luar rumah untuk bermain. Tepatnya bertemu dengan sahabatnya yaitu Ichal dan Taming. Padahal bundung ingin sekali menceritakan soal apa yang ia dengar dari Mahasiswa dimobil tadi. Bundung tak tahu menahu ternyata baru-baru ini kebijakan soal menaikkan harga BBM dikeluarkan oleh presiden yang belum genap seratus hari itu menjabat. Ia juga ingin menanyakan kepada Taming tentang dampak yang di rasakan Rakyat ketika BBM dinaikkan.
Karena tak mendapat izin dari orang tuanya untuk keluar, akhirnya Bundung hanya mengurung diri didalam kamarnya dan berharap malam nanti ia bisa keluar dan menemui Ichal dan Taming.
  
 bersambung....>>>>


Tidak ada komentar:

Posting Komentar